Kompas.com - 21/03/2013, 11:27 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com — Beberapa media sempat menyoroti seorang pejabat publik di DKI yang tertidur saat Gubernur Jokowi memberikan pidato. Pejabat tersebut tampak sulit sekali mempertahankan keterjagaannya hingga oleng ke kiri dan ke kanan. Apa yang terjadi?

Beberapa rekan yang saya temui mengomentari berita ini dengan beberapa tanggapan, tetapi semuanya mengarah pada kemalasan atau kebosanan dengan isi pidato. Tidak! Tidur bukanlah kemalasan! Bukan juga bosan. Kita harus lebih dalam melihat kantuk, terutama apabila menyerang seorang pemimpin seperti pejabat publik ini.

Tertidur

Kini, dengan adanya kamera di mana-mana, hampir tak mungkin seorang pejabat publik menyembunyikan kantuknya di hadapan publik. Bahkan Hillary Clinton pun pernah kedapatan tertidur di sebelah Aung San Suu Kyi saat mendengarkan Obama berpidato di Myanmar tahun 2012 silam. Begitu pula Wakil Presiden Joe Biden yang tertidur menyaksikan pidato Obama di sebuah acara pada April 2011. Saat Obama diambil sumpahnya Januari 2009, tampak di belakangnya Jaksa Agung Clarence Thomas juga tertidur.

Apa yang terjadi? Mengantuk pasti pernah dialami oleh setiap orang karena tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang mau tak mau harus dipenuhi. Saat mengantuk, pasti ada yang salah dengan tidur. Kurang tidur atau kualitas tidur, yang juga bisa berarti menderita penyakit tidur. Jika seseorang didapati mengantuk dan sulit tetap terjaga, bisa jadi ia kurang tidur. Atau bisa juga cukup tidur, tetapi menderita penyakit tidur, yang mengakibatkan ia menderita hipersomnia. Hipersomnia adalah kantuk berlebihan walau durasi tidur sudah cukup. Salah satu penyebab hipersomnia paling sering adalah mendengkur, sleep apnea.

Pemimpin yang mengantuk

Penelitian pada tahun 2005 menyatakan bahwa kelompok profesi yang paling kurang tidur adalah dokter, dengan durasi tidur rata-rata hanya 4,5 jam. Sementara politikus menempati posisi kedua dengan durasi tidur rata-rata 5 jam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saya ingat bagaimana beberapa pasien politikus terus bekerja hingga larut malam. Demikian juga cerita dari beberapa rekan jurnalis yang meliput rapat-rapat mereka hingga dini hari. Ini semua dilakukan demi hidup orang banyak. Tetapi, ini memunculkan keprihatinan. Politikus dan pejabat-pejabat publik ini adalah pemimpin yang bertanggung jawab mengambil keputusan-keputusan penting yang memengaruhi kehidupan kita. Dengan rapat-rapat tengah malam dan mengantuk hebat di siang hari, bisa dipastikan mereka tidak berada dalam kondisi mental yang baik untuk mengambil keputusan penting!

Tidur merupakan dasar dari kualitas hidup seorang manusia. Kemampuan konsentrasi, ketelitian, kewaspadaan, kecerdasan, serta kemampuan mengambil keputusan hingga menerima kritik telah terbukti dibangun saat tidur. Ketika menjadi pelupa dan ceroboh, apakah seseorang kekurangan vitamin tertentu? Tidak, kekurangan tidur adalah kemungkinan terbesar penyebabnya. Bill Clinton menyatakan bahwa selama hidup ia sering membuat kesalahan, dan setiap kesalahan yang ia buat dilakukannya saat lelah.

Tidur bukanlah kemalasan. Tidur justru langkah cerdas untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan otak kita.

Tidur sehat

Mengantuk juga bukan tanda kemalasan. Kantuklah yang membuat orang malas. Kemalasan adalah keengganan seseorang untuk berbuat sesuatu. Sementara mengantuk menunjukkan kebutuhan untuk tidur. Saat mengantuk, kita tak bisa berbuat apa-apa selain tidur. Sementara kafein dan minuman penambah energi hanya menunda kantuk tanpa memberikan manfaat restoratif dari tidur. Artinya, setelah minum kafein, kita memang merasa lebih segar, tetapi kemampuan otak kita yang sudah lelah tak akan terbantu.

Bagaimana agar tidak mengantuk? Jadwalkan tidur cukup dan teratur setiap malamnya. Sempatkan tidur sejenak di siang hari (15-20 menit) untuk lebih meningkatkan produktivitas. Konsumsi kafein dan minuman penambah energi dengan bijak. Secukupnya dan tidak berlebihan, berdasarkan kebutuhan saja. Jika mengantuk berlebihan walau tidur sudah cukup, perhatikan kemungkinan penyakit tidur seperti sleep apnea yang ditandai dengan mendengkur. Penyakit tidur berbahaya ini selain menyebabkan kantuk berlebihan, juga menyebabkan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kematian, depresi, stroke, dan impotensi.

-------------------------------------------------------

Memperingati hari kesehatan tidur sedunia (World Sleep Day) yang jatuh pada tanggal 15 Maret lalu, mari kita mulai memperhatikan tidur dalam keseharian kita. Jika selama ini kita hanya perhatikan diet dan olahraga, cobalah prioritaskan juga tidur dalam jadwal sehari-hari.

Tidur sehat demi kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X