Kompas.com - 31/03/2013, 17:47 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Ketika mendengar keluhan mendengkur, kebanyakan perusahaan atau asuransi di Indonesia langsung menganggap ini sebagai faktor kosmetik saja, hingga tak dianggap penting bagi kesehatan maupun produktivitas. Hanya suara yang mengganggu. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Mendengkur merupakan gejala utama dari penyakit tidur bernama Obstructive Sleep Apnea (OSA).

Sebuah tulisan dari Bruce Sherman, MD pada editorial Journal of Clinical Sleep Medicine memberikan prespektif tentang biaya, penghematan serta manfaat perusahaan untuk membiayai karyawan-karyawannya menjalani pemeriksaan dan perawatan OSA. Meski kebanyakan orang di Indonesia membiayai dirinya sendiri untuk perawatan kesehatan, pandangan dokter Bruce pantas disimak mengingat manfaat dan penghematan yang bisa diraih dengan melakukan perawatan mendengkur.

Obstructive sleep apnea

OSA telah diketahui diderita oleh banyak orang. Dari berbagai penelitian didapati, sekitar 3 persen hingga 20 persen dari populasi orang dewasa di AS menderita penyakit tidur ini. Sayangnya 80 hingga 85 persennya tidak terdiagnosa dengan baik, apalagi dirawat. Akibatnya, angka penderita hipertensi, penyakit jantung, diabetes, stroke, kecelakaan lalu lintas dan kerja, serta kematian mendadak turut meningkat. Sesuatu yang patut direnungkan untuk kondisi kita di Indonesia.

OSA terjadi karena menyempitnya saluran nafas saat kita tidur, hingga udara tak ada yang dapat lewat. Pendengkur terdiam, dengan dada dan perut naik turun berusaha menarik nafas, namun seolah tercekik, udara tak dapat mengalir masuk atau keluar. Sesak! Selanjutnya sistem pengaman tubuh akan membangunkan otak sejenak hingga pendengkur dapat bernafas kembali. Saat itu tiba-tiba pendengkur tampak tersedak atau mengeluarkan suara keras.

Kualitas tidur orang yang mendengkur selalu buruk. Istilahnya hipersomnia, kantuk berlebihan walau sudah cukup tidur. Dari sudut pandang perusahaan, karyawan yang mendengkur tampak sebagai pribadi yang mudah capek, mengantuk, ceroboh dan lamban. Penderita OSA terus mengantuk hingga membutuhkan kafein dan nikotin untuk mempertahankan konsentrasinya. Sayang semua zat stimulan ini hanya menunda kantuk tanpa menyegarkan otak kembali. Artinya? Produktivitas nya buruk.

Keselamatan kerja pun terancam. Mulai dari kemampuan mengendara yang buruk hingga kebugaran untuk menjaga monitor atau mengoperasikan alat-alat berat. Penderita OSA juga kerap mengalami kecelakaan lalu lintas.

Bagi kesehatan OSA berhubungan dengan berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, depresi dan kegemukan. Yang mana kesemuanya membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk jangka waktu lama.

Penghematan biaya

Penelitian tahun 2010 yang dipublikasikan pada the Journal of Occupational and Environmental Medicine menunjukkan bahwa dengan perawatan OSA perusahaan justru melakukan penghematan. Peneliti mengikuti klaim asuransi para pengemudi truk.  Sebanyak 156 pengemudi dengan OSA dirawat dengan CPAP, sementara 92 pengemudi terdiagnosa dengan OSA namun menolak perawatan. Hasilnya ongkos kesehatan dapat dihemat hingga 41 persen pada pengemudi dengan OSA yang dirawat.

Penelitian sebelumnya pada jurnal CHEST di tahun 2002 meneliti rekam medis dari 773 pasien mendengkur yang telah didiagnosa menderita sleep apnea dan dibandingkan dengan subyek yang tidak mendengkur. Mereka juga melihat sebelum terdiagnosa OSA, para pasien ini menderita penyakit apa saja. Hasilnya tunjukkan bahwa penderita OSA menggunakan jasa pelayanan medis lebih banyak dibanding yang tidak mendengkur. Sebelum terdiagnosa dengan OSA, kebanyakan pasien ini ternyata berobat ke dokter karena masalah penyakit jantung-pembuluh darah, terutama hipertensi.

Perusahaan-perusahaan dan asuransi tentu mencari cara sehemat mungkin untuk perawatan kesehatan bagi para karyawan. Tak heran jika perusahaan-perusahaan di AS saat ini mengedepankan pencegahan dibandingkan pengobatan. Perawatan mendengkur, OSA, termasuk dalam tindakan pencegahan penyakit kronis.

Biaya diagnosa dan perawatan OSA merupakan beban besar yang harus ditanggung oleh asuransi atau perusahaan. Mulai dari pemeriksaan tidur, hingga perawatan dengan CPAP atau pembedahan membutuhkan biaya yang tak sedikit. Namun biaya yang dikeluarkan ternyata justru menjadi penghematan di masa depan.

Perusahan-perusahan di AS sudah semakin sadar akan kesehatan tidur. Anggaran belanja kesehatan untuk karyawan pun semakin maju hingga meletakkan perawatan OSA sebagai salah satu prioritas utama.

Perawatan OSA meningkatkan produktivitas, keselamatan kerja dan kesehatan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.