Kompas.com - 01/05/2013, 09:28 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Mendengkur merupakan gejala utama sleep apnea. Sebuah penyakit tidur yang amat berbahaya karena pada orang dewasa menyebabkan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, depresi hingga stroke. Tetapi bagaimana jika terjadi pada anak? Sebuah penelitian baru pada jurnal SLEEP tunjukkan bahwa, sleep apnea pada anak bisa mengarah pada gangguan perilaku yang mirip dengan ADHD, atention deficit hyperactivity disorder.

Ngorok dan sleep apnea

Sleep apnea artinya henti nafas saat tidur. Gejala utamanya adalah mendengkur dan kantuk berlebihan yang biasa disebut dengan hipersomnia. Tetapi pada anak, tampilan mengantuk berbeda dengan orang dewasa. Untuk melawan rasa kantuk anak malah menjadi hiperaktif. Coba perhatikan anak-anak kita, ketika mengantuk malah menjadi rewel.

Mendengkur disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas saat tidur. Akibat saluran nafas yang melemas saat tidur, aliran udara jadi terganggu. Bahkan, walau gerakan nafas tetap ada, tak ada udara yang dapat mengalir masuk maupun keluar. Seolah tercekik, penderita akan terbangun singkat, tanpa terjaga untuk menarik nafas.

Karena terbangun tanpa terjaga proses tidur jadi terpotong-potong. Gangguan pada proses tidur disertai penurunan kadar oksigen ini yang diduga berujung pada gangguan perilaku.

Penelitan

Penelitian yang dilakukan di University of Arizona, Tucson ini dilakukan dengan melihat data dari the Tucson Children's Assesment of Sleep Apnea Study (TuCASA) yang dilakukan dalam rentang 5 tahun, pada anak dengan usia 6-11 tahun. Penelitian pada 263 orang anak ini melihat pengaruh sleep apnea pada perilaku.

Sleep apnea didiagnosa dengan polisomnografi (laboratorium tidur), lalu orang tua dan anak diperiksa juga lewat sejumlah kuesioner dan alat pemeriksaan psikologis. Pemeriksaan dilakukan dalam dua rentang waktu, saat pertama penelitian dimulai dan lima tahun kemudian.

Dari pemeriksaan tidur didapati, ada 23 anak yang sebelumnya tak mendengkur, tapi setelah 5 tahun terdiagnosa dengan sleep apnea; 21 anak tetap menderita sleep apnea, sejak awal penelitian hingga akhir penelitian (selama 5 tahun); dan terakhir ada 41 anak yang awalnya menderita sleep apnea tetapi diakhir penelitian sudah sembuh.

Setelah dinilai perilaku pada anak-anak tersebut didapati bahwa anak yang baru menderita sleep apnea punya kemungkinan 4-5 kali lebih besar untuk alami gangguan perilaku. Sementara anak-anak yang menderita sleep apnea dari awal penelitian hingga akhir (selama 5 tahun) punya risiko alami gangguan perilaku sampai enam kali lipat.

Halaman:

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.