Kompas.com - 15/05/2013, 12:19 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Dukungan dari lingkungan kerja menjadi salah satu faktor keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja. Sayangnya belum banyak kantor-kantor yang menyediakan ruang menyusui yang nyaman untuk karyawatinya.

Meski pemerintah sudah menjamin pemberian ASI eksklusif di tempat kerja melalui Surat Kesepakatan Bersama Tiga Menteri (Menkes, Menaker dan Meneg PP) sejak tahun 2009, tetapi hampir 50 persen pekerja formal di Jakarta memompa ASI di toilet atau kamar mandi.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian untuk tesis yang dilakukan Dr. Ray Basrowi, peserta Program Studi Magister Kedokteran Kerja Universitas Indonesia. Ray memberikan kuesioner pada 192 subyek, yang terdiri dari 77 pegawai kantor atau PNS dan 115 pekerja pabrik.

Hasilnya, sekitar 50 persen ibu menyusui memompa ASI di toilet atau kamar mandi selama berada di tempat kerja. Hanya 19 persen yang memompa di ruang laktasi. Sisanya memompa ASI di gudang, ruang rapat, mobil, atau ruang kerja sendiri.

Tidak tersedianya fasilitas memerah ASI diyakini berkorelasi dengan rendahnya pemberian ASI eksklusif. Sebanyak 78 persen pekerja pabrik dan 51,9 persen PNS tidak memberikan ASI ekslusif. Kebanyakan dari mereka memilih menghentikan pemberian ASI setelah kembali bekerja.

Ray juga meneliti keberadaan ruang menyusui pada empat instansi pemerintah dan dua pabrik. Pegawai pemerintahan di empat instansi tersebut beruntung memiliki ruang khusus menyusui, meski kondisinya tidak memenuhi syarat. Sedangkan pabrik seluruhnya tidak menyediakan ruang menyusui.

"Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa implementasi peraturan pemerintah tentang pemantapan pemberian ASI ditempat kerja masih menyisakan banyak pekerjaan rumah," katanya saat memaparkan hasil penelitian tersebut di Jakarta, Selasa (14/5/13).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Ketua Departemen Kedokteran Komunitas FKUI, Dr. Astrid Widajati Sulistomo, MPH, SpOk, ruang menyusui tidak perlu mewah. "Yang penting nyaman, private, sanitasi lancar, dan ada lemari pendingin untuk simpan ASI perahan," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Penyebab Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

8 Penyebab Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

Health
4 Cara Mengobati Penyakit Prostat, Tak Selalu Perlu Operasi

4 Cara Mengobati Penyakit Prostat, Tak Selalu Perlu Operasi

Health
Ejakulasi Tertunda

Ejakulasi Tertunda

Penyakit
4 Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak

4 Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Health
Liposarkoma

Liposarkoma

Penyakit
7 Hal yang Membut Anda Mudah Merasa Lelah

7 Hal yang Membut Anda Mudah Merasa Lelah

Health
Batu Empedu

Batu Empedu

Penyakit
12 Makanan yang Mengandung Seng Tinggi

12 Makanan yang Mengandung Seng Tinggi

Health
Kelumpuhan Tidur (Sleep Paralysis)

Kelumpuhan Tidur (Sleep Paralysis)

Penyakit
4 Jenis Orang yang Rentan Mengalami Kekurangan Zat Besi

4 Jenis Orang yang Rentan Mengalami Kekurangan Zat Besi

Health
Gastroparesis

Gastroparesis

Penyakit
Apa itu Demensia? Kenali Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Apa itu Demensia? Kenali Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Trikotilomania

Trikotilomania

Penyakit
Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Coccidioidomycosis

Coccidioidomycosis

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.