Kompas.com - 21/05/2013, 11:22 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com — Memprihatinkan. Ungkapan tersebut mungkin tepat untuk menggambarkan persentase pemberian ASI eksklusif di kalangan wanita pekerja di kawasan Ibu kota Jakarta. Penelitian menunjukkan, hanya 32,3 persen pekerja wanita sektor formal yang dapat memberi ASI eksklusif kepada buah hatinya.

"Kebanyakan pekerja mengeluhkan tidak adanya ruangan untuk memerah ASI atau menyusui anaknya. Kalaupun ada, ruangan tersebut ada di lingkungan kerjanya, mayoritas subyek merasa ruangan tersebut tak cukup kondusif," kata peneliti Ray Basrowi.

Dari hasil penelitian yang berjudul "Pemberian ASI Eksklusif pada Perempuan Pekerja Sektor Formal" itu juga mengungkapkan, para pekerja umumnya tidak mengeluhkan waktu cuti setelah melahirkan sebagai faktor penghambat pemberian asi. Waktu cuti setelah melahirkan umumnya adalah selama 3 bulan. Yang menjadi kendala bagi para ibu menyusui adalah minimnya fasilitas memadai untuk menyusui ataupun memerah ASI di sela-sela bekerja.

Hal itu pula yang dirasakan Indah Handayani, seorang reporter sebuah harian ekonomi di Jakarta. Ibu seorang putra ini merasakan betul betapa berat perjuangan untuk memerah ASI ketika sedang menjalankan tugas jurnalistiknya. Kurangnya fasilitas ruang menyusui di kantor dan layanan publik membuat Indah kerap kelimpungan ketika harus memerah ASI.

"Rumah sakit besar sekalipun belum tentu menyediakan ruang menyusui. Kadang yang saya sesalkan awak rumah sakit seolah tidak peduli bila ada ibu yang mau memerah ASI-nya," kata Indah.

Minimnya ketersediaan ruang menyusui membuat Indah memilih toilet atau mushala ketika harus memerah ASI. Meski begitu, Indah berusaha menjaga kebersihan ASI yang diperahnya. Jika terpaksa menggunakan toilet, Indah menghindari duduk di toilet.

Ibu dari Ziyadanesh Arkan Yudha ini memilih tetap berdiri dibanding duduk di kloset, yang menurutnya penuh dengan bakteri. Indah lebih nyaman memerah di dekat wastafel atau duduk di sofa kamar mandi apabila tersedia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mau gimana lagi? Yang ada cuma ini. Bagaimanapun anak saya harus minum ASI. Saya yakin, ASI adalah yang terbaik buat putra pertama saya ini," kata Indah yang saat ditemui, Jumat (17/5/2013), sedang memompa ASI di mashala sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Keyakinannya untuk terus berupaya memberi ASI bagi sang buah hati tentu bukannya tanpa alasan. Berbagai pengetahuan yang dipelajarinya mengatakan, ASI memiliki kandungan gizi dengan porsi yang cukup. ASI memungkinkan putranya yang lahir pada 23 Februari 2013 bisa tumbuh sehat tanpa ancaman obesitas. Selain itu, Indah yakin, ASI yang diberikan akan memperkuat ikatan emosi ibu dan anak walau tidak memberikannya secara lansung.

Saat ini, sudah 3 bulan Indah memerah ASI untuk buah hatinya. Indah mengakui, memang tidak mudah membawa peralatan kerja dan ASI ketika bekerja.

"Tapi, itu cuma awalnya, perlahan jadi terbiasa. Naik angkutan umum juga bukan masalah," kata wartawati yang bertempat tinggal di Bintara, Bekasi Barat, ini.

Dalam sehari, ibu berusia 28 tahun ini memompa ASI dari payudaranya tiga kali. Pertama, dilakukan pagi hari sebelum berangkat. Proses memompa kedua dan ketiga dilakukan setelah makan siang dan pukul 16.00 sore, yang keduanya dilakukan saat dirinya tengah bekerja.
ASI yang dihasilkan dalam sekali pompa bisa mencapai 110 mililiter.

Lelah, tetapi bahagia. Itulah yang selalu dirasakan Indah ketika memompa ASI. Lelah karena ia harus berjuang menemukan ruangan untuk menyusui sekaligus mengetik hasil liputannya. Bahagia karena dirinya tengah memberikan gizi terbaik untuk putra semata wayangnya.

Kendati begitu, Indah merasa hal tersebut bukan masalah. Indah bertekad akan memberi putranya ASI eksklusif selama 6 bulan. "Saya yakin dan sudah berniat. Saya akan berikan yang terbaik meski ruang menyusui terbatas. Anakku harus minum ASI," kata Indah menutup pembicaraannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Penyebab Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

8 Penyebab Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

Health
4 Cara Mengobati Penyakit Prostat, Tak Selalu Perlu Operasi

4 Cara Mengobati Penyakit Prostat, Tak Selalu Perlu Operasi

Health
Ejakulasi Tertunda

Ejakulasi Tertunda

Penyakit
4 Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak

4 Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Health
Liposarkoma

Liposarkoma

Penyakit
7 Hal yang Membut Anda Mudah Merasa Lelah

7 Hal yang Membut Anda Mudah Merasa Lelah

Health
Batu Empedu

Batu Empedu

Penyakit
12 Makanan yang Mengandung Seng Tinggi

12 Makanan yang Mengandung Seng Tinggi

Health
Kelumpuhan Tidur (Sleep Paralysis)

Kelumpuhan Tidur (Sleep Paralysis)

Penyakit
4 Jenis Orang yang Rentan Mengalami Kekurangan Zat Besi

4 Jenis Orang yang Rentan Mengalami Kekurangan Zat Besi

Health
Gastroparesis

Gastroparesis

Penyakit
Apa itu Demensia? Kenali Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Apa itu Demensia? Kenali Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Trikotilomania

Trikotilomania

Penyakit
Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Coccidioidomycosis

Coccidioidomycosis

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.