Kompas.com - 04/07/2013, 06:47 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh pasti akan membuat residu atau sisa dari hasil metabolisme. Jadi, mau tidak mau kita perlu melakukan proses detoksifikasi atau pengeluaran racun-racun dalam tubuh agar residu makanan yang menumpuk akan mengakibatkan penyakit.

Sebenarnya tubuh sudah memiliki mekanisme pengeluaran racun sendiri, misalnya dengan berkeringat, buang air kecil, atau buang air besar. Namun mekanisme alamiah ini kadang kala terganggu, misalnya karena kurang makan serat maka kita tidak bisa BAB setiap hari, sehingga racun pun menumpuk. Bayangkan jika gangguan itu terjadi berhari-hari.

Karena itulah para ahli kesehatan menyarankan agar kita melakukan detoksifikasi secara berkala. Proses detoks dapat dilakukan dengan bermacam metode. Banyak ahli gizi yang menciptakan metode detoks dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Salah satunya adalah dengan hanya makan buah-buahan saja selama seminggu.

Namun detoks tidak harus dilakukan dengan metode yang mahal dan menyiksa. Berpuasa pun bisa menjadi salah satu metode detoks yang sekaligus meningkatkan keimanan.

Ahli gizi dan pangan Institut Pertanian Bogor Profesor Made Astawan mengatakan, prinsip detoks yaitu membuang racun-racun yang diproduksi dari hasil metabolisme. Sementara puasa berarti tidak mengonsumsi makanan apapun selama periode waktu tertentu sehingga menyediakan waktu tubuh untuk membuang sendiri sisa-sisa metabolisme tersebut.

"Puasa bisa jadi salah satu sarana detoks yang berguna," ungkapnya dalam seminar kesehatan bertajuk "S.O.D.A (Smart on Doing Activity) - Jangan Takut Makan Enak", Rabu (3/7/2013) di Jakarta.

Menurut Made, puasa merupakan metode detoks yang paling ideal. Pasalnya, orang yang menjalaninya tetap bisa makan di waktu sahur dan berbuka. Berbeda dengan metode yang cukup kompleks seperti cuci usus yang dinilai Made berlebihan.

"Yang penting adalah mengurangi makanan-makanan berat, dan  memperbanyak sayur dan buah. Jadi jangan kalap saat sahur dan berbuka atau puasa tidak akan memberikan efek detoks yang optimal," tutur Made.

Kendati berpuasa satu bulan penuh identik dengan latar belakang agama tertentu, sebenarnya agama lainnya juga memiliki metode puasa sendiri-sendiri. Made mencontohkan, puasa mutih yang hanya makan makanan berwarna putih juga bisa jadi upaya detoks.

Jika dilakukan secara benar, detoksifikasi bisa menghasilkan perubahan yang cukup drastis pada tubuh, antara lain kulit menjadi lebih kencang, tubuh lebih bugar, sehat, daya ingat meningkat, dan gejala pusing dan lemas berkurang.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Rekomendasi untuk anda
    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.