Risiko Kesehatan jika Berat Lahir Bayi Terlalu Besar

Kompas.com - 23/07/2013, 12:52 WIB
Ilustrasi shutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Persalinan Kate Middleton yang berlangsung Senin (20/7/2013) pukul 16.24 waktu Inggris lalu seakan menjawab penantian publik selama beberapa bulan terakhir. "Royal Baby" yang berjenis kelamin laki-laki itu lahir dengan berat lahir 3,7 kilogram.

Meski lahir dengan berat cukup besar untuk ukuran bayi Asia, calon pewaris takhta kerajaan Inggris tersebut masih tergolong normal. Menurut dr Ivan SIni, SpOG, bayi Kate Middleton bisa berbobot besar karena terlahir dari orangtua ras kaukasia. 

"Wanita kaukasia memiliki postur tubuh besar dan ukuran 4,6 kg bisa dikatakan relatif wajar," kata dokter dari RSIA Bunda Jakarta ini ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (23/7/13).

Seorang bayi dianggap kelebihan berat badan jika bobotnya lebih dari 4 kg atau disebut dengan bayi makrosomia. Kondisi ini menghadapi sejumlah risiko, di antaranya hipogiklemi atau penurunan kadar gula darah.

Menurut Sita Ayu Arumi, dokter spesialis kebidanan, bayi terlahir besar mungkin terjadi karena diabetes gestasional yang dialami ibunya. Diabetes gestasional merupakan tingginya kadar gula darah yang khas ditemui hanya saat hamil.

"Jika kadar gula darah puasa ibu lebih dari 110 mg/dL, dan lebih dari 140 mg/dL setelah makan, maka bisa jadi ibu mengalami diabetes gestasional," tuturnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/7/2013).

Apabila ibu mengalami diabetes gestasional, risiko bayi mengalami hipoglikemi setelah dilahirkan meningkat. Hal ini terjadi karena adanya mekanisme kompensasi yang dimiliki bayi.

Sita memaparkan, saat hamil bayi mendapatkan asupan nutrisi dari ibunya. Bila ibu menderita diabetes gestasional, asupan nutrisi yang didapat bayi mengandung kadar gula yang tinggi sehingga tubuh bayi meresponnya dengan memproduksi insulin yang lebih banyak. Sayangnya insulin tetap diproduksi dalam jumlah yang sama setelah bayi dilahirkan.

"Padahal setelah dilahirkan, bayi tidak mendapat lagi nutrisi dari ibunya. Nutrisi yang didapatkannya sendiri mungkin tidak sebanyak yang didapat saat dalam kandungan, jadi tidak banyak gula darah yang harus diubah oleh insulin yang jumlahnya tetap banyak. Inilah yang mengakibatkan hipoglikemi," jelas dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi Jaya ini.

Karena kadar gula darah bayi tinggi, glukosa akan diubah menjadi cadangan makanan di sels sehingga ukuran sel pun menjadi besar dan jumlahnya banyak. Akibatnya, berat badan bayi menjadi besar.

Kendati demikian, Sita mengatakan, setiap bayi yang lahir besar sebaiknya perlu diperiksa kadar gula darahnya untuk menghindari risiko hipoglikemi ataupun risiko lainnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X