Kompas.com - 26/07/2013, 11:24 WIB
Bulan purnama naik di samping sebuah gedung perkantoran di pusat kota Charlotte, NC, 22 Juni 2013. Bulan yang akan mencapai tahap penuh pada Minggu, 13.5 persen lebih dekat ke bumi dan dikenal sebagai fenomena supermoon. AP PHOTO / CHUCK BURTONBulan purnama naik di samping sebuah gedung perkantoran di pusat kota Charlotte, NC, 22 Juni 2013. Bulan yang akan mencapai tahap penuh pada Minggu, 13.5 persen lebih dekat ke bumi dan dikenal sebagai fenomena supermoon.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Banyak mitos yang mengambarkan bagaimana kekuatan bulan purnama memengaruhi kehidupan manusia. Namun, kini ilmu pengetahuan kian dekat mengungkap kebenaran mitos tersebut, salah satunya yang terkait dengan terganggunya tidur saat sedang bulan purnama.

Studi mengatakan, tubuh manusia, khususnya irama sirkadian, tidak hanya dipengaruhi oleh terbit dan tenggelamnya matahari saja, tapi juga fase bulan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology ini dilatarbelakangi banyaknya orang yang sulit tidur saat munculnya bulan purnama. Peneliti studi, Silvia Frey, ahli saraf dari University of Basel, mengatakan, awalnya terdengar lucu, tetapi setelah mendengar keluhan tidur dari banyak orang, mungkin ada sesuatu di balik bulan purnama.

Frey dan timnya kemudian menganalisis tidur dari 33 orang sehat di laboratorium tidur selama tiga setengah hari. Para peserta diatur untuk tidak dapat melihat jam ataupun cahaya luar. Suhu dan kelembaban diatur konstan.

Tim peneliti mencatat hormon dan aktivitas otak para peserta. Mereka juga mencatat jarak waktu peserta untuk dapat tertidur dan lama waktu tidur total peserta.

Selain itu, tim peneliti juga mengumpulkan data dari studi sebelumnya, melibatkan peserta yang sama selama 64 hari. Dalam data itu, terdapat informasi selengkap data baru, tetapi karena waktunya lebih panjang, peneliti bisa membandingkannya dengan fase bulan.

Studi menemukan, empat hari sebelum dan setelah purnama, para peserta mengalami penurunan kualitas tidur. Studi juga menemukan, para peserta membutuhkan waktu lebih lama untuk tidur sekitar 20 menit. Para peserta juga mengalami penurunan waktu fase tidur dalam sebanyak sepertiganya, dan penurunan hormon tidur melatonin.

Kendati demikian, para peneliti mengakui studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Lantaran menggunakan data lama, mereka tidak dapat mengetahui faktor-faktor lain yang memengaruhi kesulitan tidur para peserta.

"Kami tidak memperkirakan akan ada perbedaan yang begitu besar, terutama pada kadar hormon melatonin. Mungkin ada faktor psikologis yang berperan," ujar Frey.

Studi sebelumnya menemukan, pasien penyakit jantung menghabiskan waktu lebih sedikit di rumah sakit dengan tingkat kematian lebih rendah ketika menjalani pembedahan pada bulan purnama.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X