Kompas.com - 29/07/2013, 14:29 WIB
Murid-murid SD membeli jajanan saat jam istirahat di sekitar sekolah mereka di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (20/2/2013). Jajanan sekolah yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya berpotensi menjadi penyebab gangguan kesehatan bagi anak-anak.
KOMPAS/IWAN SETIYAWANMurid-murid SD membeli jajanan saat jam istirahat di sekitar sekolah mereka di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (20/2/2013). Jajanan sekolah yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya berpotensi menjadi penyebab gangguan kesehatan bagi anak-anak.
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com -
Pangan yang sehat dan bergizi sangat dibutuhkan anak. Sayangnya tidak setiap saat orangtua dapat memberi bekal hidangan bergizi untuk anaknya. Sehingga sebagian anak terpaksa menggantungkan kebutuhan nutrisinya pada jajanan.

Namun, tidak semua jajanan anak sekolah aman dan bergizi. Data BPOM RI 2012 menyatakan, 24 persen jajanan anak masuk dalam kategori bahaya. Sementara jumlah panganan anak yang sehat dan bergizi, meningkat jadi 76 persen.

Meski begitu bukan berarti formalin, boraks, dan rhodamin B tidak lagi digunakan. Data BPOM RI pada 2012 menunjukkan, penggunaan formalin mencapai 9 persen. Sementara penggunaan bahan tambahan pangan (BTP), seperti pemanis buatan, mencapai 20 sampai 24 persen. Para produsen juga belum memperhatikan kebersihan dan sanitasi saat pembuatan makanan. Sehingga pangan yang diproduksi, berisiko mengandung bakteri Esterichia coli.

"Disinilah kunci komunitas sekolah. Orangtua, guru, dan masyarakat sekolah harus bersama membentuk lingkungan yang sadar, dan menerapkan jajanan sehat untuk anak sekolah," kata Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM, Roy Sparingga, dalam acara  Seminar Guru, Sehatnya Duniaku : Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu, dan Bergizi pada Sabtu (27/7) di Jakarta.

Seminar ini dihadiri 400 guru dari propinsi DKI Jakarta. Roy mengatakan, seminar ini bertujuan mengingatkan para guru pentingnya mengawasi pangan jajanan anak sekolah (PJAS). Guru sebagai pendidik, berperan sentral meningkatkan kesadaran jajanan sehat. Guru yang baik tidak asal jajan dan memberi contoh buruk bagi muridnya. Para guru diberi pembekalan bagaimana membangun kesadaran di lingkungan sekolah. Nantinya diharapkan, terbentuk komunitas sekolah yang bisa membentengi diri dari serangan jajan mengandung bahan berbahaya.

Komunitas bisa melakukannya lewat pembangunan kantin sehat atau kebiasaan membawa bekal. Komunitas bisa juga membangun komunikasi dengan para pedagang di sekitar sekolah, untuk tidak lagi memasarkan jajan dengan bahan berbahaya.

"Pengawasan juga harus dilakukan di rumah. Para orangtua harus mengawasi makanan apa saja yang dikonsumsi anak," kata Roy. Roy menyarankan orangtua mengajak anak sarapan sebelum sekolah. Sehingga tidak lekas lapar dan membeli jajanan yang belum terjamin mutunya.

Anggota komunitas dapat mempelajari 5 kunci keamanan pangan untuk anak sekolah. Lima kunci meliputi mengenali pangan yang aman, di mana membeli pangan yang aman, membaca kelengkapan label seperti izin edar, kandungan gizi, dan tanggal kedaluwarsa, menjaga kebersihan serta mencatat makanan mana yang bernutrisi atau tidak.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X