Cukup Tidur Cegah Kecelakaan Saat Mudik

Kompas.com - 05/08/2013, 12:07 WIB
Pemudik menggunakan kendaraan pribadi mulai meninggalkan Jakarta di sekitar pintu keluar tol Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (3/8/2013) pukul 01.00 WIB. Puncak arus mudik diperkirakan akan terjadi mulai hari ini hingga 5 Agustus mendatang. KOMPAS / AGUS SUSANTOPemudik menggunakan kendaraan pribadi mulai meninggalkan Jakarta di sekitar pintu keluar tol Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (3/8/2013) pukul 01.00 WIB. Puncak arus mudik diperkirakan akan terjadi mulai hari ini hingga 5 Agustus mendatang.
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Jalanan menjadi area yang sangat berbahaya di musim mudik Lebaran. Seperti dilansir Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian Republik Indonesia, hingga Minggu (4/8/2013) atau dua hari berjalannya Operasi Ketupat 2013, tercatat sudah 60 orang kehilangan nyawanya dalam aktivitas khas sebelum hari raya ini.

Mengantuk saat berkendara kerap diduga sebagai pemicu kecelakaan. Dalam keadaan mengantuk, pengemudi memang rentan mengalami penurunan konsentrasi hingga memengaruhi kesigapan mengambil keputusan yang merupakan faktor penting saat mengendara. Terlebih pada saat mudik, konsentrasi harus tetap terjaga mengingat durasi mengemudi yang relatif lama dan arus kendaraan yang padat.

Keinginan untuk cepat sampai bertemu dengan sanak saudara mungkin membuat orang cenderung memaksakan diri untuk tetap berkendara meski sudah merasa mengantuk. Alhasil, jalan pintas seperti konsumsi minuman berenergi atau berkafein seringkali dipilih.

Padahal menurut pakar kesehatan tidur dr Andreas Prasadja, RPSGT, satu-satunya cara yang dapat melenyapkan rasa kantuk hanyalah dengan mencukupi kebutuhan tidur. Sehingga minuman-minuman "antikantuk" hanya dapat memacu adrenalin sehingga tubuh terasa lebih segar sementara waktu, namun sebenarnya tidak menghilangkan kantuk.

"Otak yang lelah tidak akan terobati dengan minum-minuman seperti itu. Obat untuk ngantuk ya tidur," ujarnya saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Andreas mengatakan, pengendara saat mudik harus pintar-pintar mengatur waktu untuk beristirahat. Sebelum memulai mengemudi, paling tidak pengendara harus tidur cukup sehingga keadaannya benar-benar segar saat mengemudi.

Kemudian, lanjutnya, setelah tiga atau empat jam, pengemudi sebaiknya beristirahat. Senam kecil dan tidur meskipun hanya 15 menit sangat berguna untuk menyegarkan otak kembali.

Mengantuk memang seringkali tidak disadari, maka pengemudi harus cermat menilai tanda-tanda mengantuk pada dirinya. Andreas menjelaskan, tanda-tanda mengantuk meliputi: kehilangan konsentrasi, mata lebih sering berkedip, berulang kali menguap, sulit menjaga kepala tetap tegak, melanggar peraturan lalu lintas, mulai terpancing emosi, dan tidak sadar melewati jalan.

Jika mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya pengemudi menghentikan sejenak kegiatan mengemudinya. "Prinsipnya kalau mulai mengantuk, harus tidur," tegas dokter yang berpraktik di RS Mitra Kemayoran ini.

Menurut Andreas, jika memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi, maka pemudik perlu mempertimbangkan jumlah orang yang bisa bergantian untuk mengemudi. Dalam satu kendaraan, idealnya ada dua orang yang bisa bergantian mengemudi untuk meminimalisasi kelelahan pada seorang pengemudi.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X