Kompas.com - 29/08/2013, 11:15 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Melonjaknya harga pangan beberapa bulan terakhir memaksa masyarakat mengurangi konsumsi. Tak terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat secara berkepanjangan bisa berdampak munculnya berbagai persoalan kesehatan, produktivitas, dan kualitas manusia Indonesia ke depan.

”Anak balita, ibu hamil, dan orang lanjut usia (lansia) adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak kekurangan gizi,” kata Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi Tirta Prawita Sari, di Jakarta, Rabu (28/8).

Lonjakan harga terjadi pada bahan pangan sumber protein, seperti daging, kedelai, telur, ataupun ikan laut yang harganya bergantung pada cuaca. Sebagian sumber protein itu tak memiliki substitusi yang mempunyai nilai gizi setara. Di sisi lain, banyak warga tak tahu pengganti sumber protein mahal tersebut.

Menurut Tirta yang juga dosen di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, anak balita memiliki kebutuhan gizi yang jumlah dan jenisnya tidak bisa ditawar. Jika asupan gizinya kurang, pertumbuhan anak balita terganggu. Anak menjadi pendek, kecerdasannya rendah, dan rentan menderita penyakit degeneratif saat dewasa.

Pada ibu hamil, kekurangan gizi akan mengganggu pertumbuhan janin, meningkatkan risiko gangguan saraf pada bayi, bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg, hingga risiko persalinan. ”Dalam kondisi harga pangan normal saja banyak ibu hamil kekurangan zat besi dan asam folat,” katanya. Kondisi ini dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah kematian ibu saat melahirkan dan gangguan pada bayi.

Adapun orang lansia adalah kelompok yang paling sering diabaikan hak-haknya dalam pemenuhan gizi. Seiring bertambahnya usia, selera makan orang lansia umumnya menurun. Sebagian orang lansia mengalami demensia yang membuat mereka tak ingat apakah sudah makan atau belum.

”Gizi berkaitan dengan kesejahteraan dan kesejahteraan terkait kondisi ekonomi,” ujar Tirta. Karena itu, pemerintah perlu menjaga agar ketahanan pangan masyarakat tak terganggu meski kondisi ekonomi tak stabil.

Secara terpisah, Ketua Bidang Temu Ilmiah dan Pengembangan Organisasi Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan yang juga Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor Ahmad Sulaeman mengatakan, impor bukan solusi atas berbagai kekurangan bahan pangan. ”Penganekaragaman pangan perlu dilaksanakan secara konsisten dan lebih gencar,” katanya.

Kenaikan harga kedelai, ujarnya, lebih mengkhawatirkan dibandingkan kenaikan harga daging. Sebagian besar masyarakat menengah bawah, khususnya di Jawa, menggantungkan sumber protein pada tahu dan tempe.

Pemerintah perlu lebih mengampanyekan pemanfaatan sumber protein lain, seperti ikan lele, patin, belut, badar, bilis, hingga belalang. Indonesia punya banyak sungai, empang, atau rawa yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar. (MZW)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.