Kompas.com - 02/09/2013, 10:44 WIB
Ilustrasi kondom. ShutterstockIlustrasi kondom.
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com — Sebagian besar masyarakat masih menganggap kondom sebagai alat seks. Oleh karenanya, terciptalah stigma keberadaan kondom di suatu tempat artinya mendukung praktik prostitusi. Padahal, kondom telah terbukti sebagai alat yang efektif untuk mencegah penularan HIV serta infeksi menular seksual (IMS) sehingga tidak lagi menjadi sekadar alat seks.

"Seharusnya kondom sudah dianggap sebagai alat kesehatan, bukan alat seks. Maka penyediaannya bukan berarti melegalkan praktik prostitusi," ujar Ketua Program Scaling Up at Most-at-risk Population 1 (SUM1) dari Family Health International (FHI) Erlian Rista Aditya pada akhir pekan lalu di Bogor.

Menurutnya, distribusi kondom ke tempat-tempat yang mudah dijangkau bahkan tidak meningkatkan seks di luar nikah. Sebaliknya, penyediaan kondom justru akan mengurangi tingkat penyebaran penyakit yang penularannya melalui hubungan seksual, seperti HIV dan IMS.

Prinsipnya untuk mengurangi tingkat penyebaran HIV dan IMS, jelas dia, adalah strategi ABC. A untuk abstinence yang berarti tidak berhubungan seks hingga menikah. B untuk be faithful yang berarti setia kepada pasangan setelah aktif secara seksual. Adapun C untuk condom yang berarti selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks apabila tidak bisa berpegang pada prinsip A dan B.

"Daripada harus minum ARV (obat untuk HIV) seumur hidup, lebih baik pencegahan. Ya dengan strategi ABC itu. Kondom sudah terbukti 97 persen efektif untuk mencegah transmisi virus," tekan Aan, panggilan Erlian.

Untuk meningkatkan penggunaan kondom yang konsisten, Aan dan timnya melakukan Program Pemasaran Sosial Kondom (PPSK). Program tersebut menekankan teknik-teknik komersial untuk pemasaran kondom, yang terdiri dari lima kunci, yaitu policy, place, product, promotion, dan price.

Aan juga menyoroti penyediaan kondom yang masih minim di area hotspot yang merupakan tempat terjadinya transaksi seksual. Padahal, area hotspot merupakan titik rawan terjadinya penularan HIV dan IMS.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia memaparkan, hanya 12 persen hotspot yang memiliki akses kondom di dalamnya. Sebanyak 57 persen hotspot saja yang memiliki jarak 100 meter dengan akses kondom.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Promosi dan Pencegahan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta Kristina mengatakan, idealnya akses kondom harus berada 0 meter dari hotspot. Ini berarti akses kondom perlu ada di setiap hotspot.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X