Kompas.com - 30/09/2013, 17:53 WIB
Pekerja memeriksa sampel tembakau di gudang Pabrik Rokok Gudang Garam di Desa Pare, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (21/9/2010). KOMPAS IMAGES / KRISTIANTO PURNOMOPekerja memeriksa sampel tembakau di gudang Pabrik Rokok Gudang Garam di Desa Pare, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (21/9/2010).
|
EditorWardah Fazriyati

KOMPAS.com - Implementasi FCTC atau Framework Convention on Tobacco Control dalam aturan negara Indonesia dinilai tidak merugikan pihak manapun, termasuk industri rokok. Penerapan aturan pengendalian tembakau ini tidak lantas membuat perusahaan merokok merugi, dan menghilangkan lapangan pekerjaan.

“Kalau sekarang diimplementasikan tidak mungkin besok langsung gulung tikar. Apalagi kondisi pasar perusahaan rokok adalah fixed market,” kata aktivis anti merokok dr Prijo Sidipratomo SpRad ketika dihubungi Kompas Health, Senin (30/9/2013).

Fixed market, kata Prijo, adalah kondisi pasar yang tidak bisa dimasuki produk lain dengan konsumen yang sudah jelas. Hal ini dikarenakan sifat rokok yang menimbulkan adiksi atau ketergantungan. Saat seseorang sudah terperangkap rokok akan sulit melepaskan dari ketergantungan yang mengikatnya. Saat itulah dia menjadi konsumen tetap rokok yang pastinya akan membeli produk tembakau tersebut.

“Kita bisa melihat Thailand yang sudah mengaksesi FCTC. Pabrik rokok di negara tersebut tidak lantas tutup dan terjadi PHK besar-besaran. Semua berjalan baik-baik saja, karena kondisi pasar rokok yang bersifat fixed market,” kaya Prijo.

Saat ini jumlah perokok pria di Indonesia mencapai 70 persen, sedangkan sisanya ditempati wanita. Dalam setahun ada sekitar 302 miliar batang rokok yang dihabiskan. Jumlah tersebut masih menunjukkan kecenderungan peningkatan yang semakin besar. Jumlah tersebut juga tidak mungkin beralih ke alternatif lain, selama perokok tidak melepaskan dari adiksi yang menggantungnya.

Selama konsumen masih ada, maka tidak mungkin pabrik rokok akan merugi. Perlakuan FCTC juga tidak merugikan pengusaha terkait besarnya cukai yang ditanggung.

“Dalam perundang-undangan yang ada, cukai hanya mentok sampai 57 persen. Hal ini tidak seberapa dibanding cukai di Singapura, Brunei Darussalam, bahkan Amerika Serikat,” kata Prijo.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Cukai di ketiga negara tersebut mencapai 80 persen, yang tentunya lebih memberatkan pengusaha rokok. Dengan kondisi seperti ini, Prijo mengatakan, sangat tidak masuk akal bila pengusaha, organisasi, atau kementerian masih menolak FCTC.

Perlakuan FCTC bertujuan melindungi generasi muda dari produk tembakau yang berdampak negatif, bukannya membangkrutkan usaha rokok. 

Indonesia bisa dipastikan merugi bila tidak meratifikasi FCTC. Hal ini dikarenakan Indonesia tak punya hak suara pada kebijakan internasional apapun, yang berkaitan dengan tembakau. Padahal FCTC dibentuk oleh negara yang punya kepentingan pada tanaman bahan baku rokok ini, seperti halnya Amerika Serikat.

“Misalnya saja untuk cukai. Kita hanya bisa 57 persen, padahal negara lain hingga 80 persen. Hal ini bisa berbeda bila kita sudah meratifikasi FCTC,” kata pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi.

Tulus menilai, kebijakan yang diambil sudah bernapaskan FCTC misal untuk iklan, penjualan, atau aturan merokok. Namun hal tersebut masih belum cukup mengendalikan penggunaan produk tembakau, terutama rokok, di kalangan generasi muda.

“Namun saya percaya Indonesia pasti akan meratifikasi FCTC, karena tekanan negara lain yang sudah lebih dulu mengaksesi. Sejak dicetuskan sekitar tahun 2000, sudah 178 negara yang mengimplementasikan, termasuk Amerika Serikat,” kata Tulus.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Malnutrisi
Malnutrisi
PENYAKIT
Kram Perut
Kram Perut
PENYAKIT
Anosmia
Anosmia
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

15 Gejala Pendarahan Otak yang Perlu Diwaspadai

15 Gejala Pendarahan Otak yang Perlu Diwaspadai

Health
Kram Perut

Kram Perut

Penyakit
Tidak Mengalami KIPI, Apakah Vaksin Covid-19 Tetap Bekerja?

Tidak Mengalami KIPI, Apakah Vaksin Covid-19 Tetap Bekerja?

Health
Malnutrisi

Malnutrisi

Penyakit
Penyebab Nyeri Dada pada Wanita yang Harus Diwaspadai

Penyebab Nyeri Dada pada Wanita yang Harus Diwaspadai

Health
Anosmia

Anosmia

Penyakit
Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cuka Apel

Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cuka Apel

Health
Pantat Pegal

Pantat Pegal

Penyakit
12 Tanda Awal Kehamilan, Tak Melulu Menstruasi Terlambat

12 Tanda Awal Kehamilan, Tak Melulu Menstruasi Terlambat

Health
Perut Buncit

Perut Buncit

Penyakit
Ini Alasan Usia Kehamilan Bisa Lebih Tua dari Usia Pernikahan?

Ini Alasan Usia Kehamilan Bisa Lebih Tua dari Usia Pernikahan?

Health
Kulit Belang

Kulit Belang

Penyakit
10 Cara Mengobati Penyakit Perlemakan Hati Secara Alami

10 Cara Mengobati Penyakit Perlemakan Hati Secara Alami

Health
Betis Bengkak

Betis Bengkak

Penyakit
Kapan Sebaiknya Pemeriksaan Kesehatan Dilakukan Saat Merencanakan Kehamilan?

Kapan Sebaiknya Pemeriksaan Kesehatan Dilakukan Saat Merencanakan Kehamilan?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.