Kompas.com - 30/09/2013, 18:15 WIB
|
EditorWardah Fazriyati
KOMPAS.com - Ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) akan menyelamatkan generasi muda dari ancaman bahaya merokok seperti penyakit kronis. Hal ini dibuktikan Amerika Serikat yang berhasil menurunkan jumlah penderita penyakit kronis, misalnya kanker.

“Angka pastinya memang belum diketahui. Namun mereka mengklaim bisa menurunkan jumlah penderita penyakit kronis dengan angka yang cukup signifikan,” kata aktivis anti rokok, dr Prijo Sidipratomo SpRad ketika dihubungi Kompas Health, Senin (30/9).

Jumlah perokok Amerika Serikat pada 30-40 tahun lalu hampir sama dengan Indonesia sekarang. Saat ini, perokok Indonesia menghabiskan 302 miliar batang rokok per tahunnya. Padahal 40 tahun lalu, perokok Indonesia "hanya" menghabiskan 30 miliar batang rokok per tahun.

Keberhasilan pemerintah Amerika, kata Prijo, dipengaruhi penurunan jumlah perokok dari kalangan muda. Melalui penerapan FCTC, perokok hanya terbatas pada usia dewasa. Kondisi ini juga didukung pemerintahan presiden Nixon hingga Obama yang selalu memperbaharui aturan terkait rokok dan tembakau.

Dampaknya, efek negatif rokok yang menstimulasi penyakit kronis bisa ditekan. Sehingga generasi muda tidak terlalu dini menderita berbagai penyakit kronis akibat merokok seperti kanker paru dan jantung.

Terhindarnya generasi dari penyakit kronis justru meningkatkan produktivitas mereka. Mereka bisa memaksimalkan kinerja dan memanfaatkan penghasilan untuk hal yang lebih berguna selain merokok. Generasi muda yang tidak merokok juga berpeluang menciptakan lingkungan sehat bebas asap rokok.

“Umumnya para perokok merokok di rumah. Padahal di rumah ada perokok pasif yang mungkin lebih banyak dibanding perokok aktif, misalnya istri, ibu, anak, atau ibu hamil,” kata Prijo.

Lingkungan yang sehat memungkinkan perokok pasif terhindar dari paparan radikal bebas. Kondisi ini juga mendukung tumbuh kembang optimal anak.

Pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, FCTC menekan jumlah permintaan rokok pada generasi muda. Hal ini terjadi melalui peningkatan biaya cukai, pembatasan iklan, atau perubahan kemasan yang menunjukkan efek mengerikan rokok.

Peningkatan biaya cukai berdampak pada tingginya harga rokok per batang. Hal ini mau tak mau membuat generasi muda, berpikir ulang bila hendak merokok. Upaya promotif juga turut mendukung pembatasan iklan dan perubahan kemasan rokok.

“FCTC tidak merugikan pihak manapun. Aturan ini semata mengatur pengendalian tembakau, di generasi muda,” kata Tulus.

Advokasi
Sayangnya walaupun menguntungkan, Indonesia belum mengaksesi FCTC. Padahal Indonesia termasuk penggagas FCTC, bersama 42 negara lainnya.

“Saya yakin FCTC ini hanya satu cara. Saat ini kita genjot saja terus advokasi pada masyarakat. Advokasi terus menerus akan merubah cara pandang masyarakat, hingga akhirnya menghindari rokok,” kata aktivis antirokok, dr Kartono Muhammad.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.