Kompas.com - 09/10/2013, 17:55 WIB
ASI juga bisa menjadi alergen, pencetus alergi, jika ibu mengonsumsi makanan pencetus alergi. shutterstockASI juga bisa menjadi alergen, pencetus alergi, jika ibu mengonsumsi makanan pencetus alergi.
|
EditorWardah Fazriyati
KOMPAS.com - Alergi pada bayi bisa terjadi jika tiga faktor utama ini saling berhubungan. Yakni genetik, lingkungan mikrobiotik pada saluran cerna, dan masuknya alergen. Jika ayah atau ibu bayi memiliki alergi, anak kemungkinan terkena alergi hanya jika terjadi gangguan di lingkungan mikrobiotik dan masuknya alergen.

"Aspek genetik, lingkungan, alergen, jangan sampai nilainya tinggi, harus ada yang nol. Terjadi alergi bila ada pertemuan ketiga aspek ini, harus semuanya, tidak bisa hanya salah satu saja," ungkap Anang Endaryanto, MD, PhD, konsultan Pediatri Alergi Imunologi RS Dr Soetomo Surabaya, kepada Kompas Health di sela Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Dokter Indonesia (PIT IDAI), di Solo, Senin (7/10/2013).

Anang menjelaskan kalau ibu alergi, anak bisa saja alergi bisa juga tidak. Perlu dilihat lagi faktor lainnya yakni apakah ayah alergi? Jika keduanya alergi, anak 80 persen bisa alergi. Jika hanya salah satunya yang alergi, ayah atau ibu saja, maka anak 40 persen bisa mengalami alergi.

Anak yang memiliki orangtua alergi juga semakin berisiko tinggi jika dilahirkan melalui operasi caesar. Pasalnya, pada anak yang lahir melalui operasi caesar, bisa jadi ada gangguan flora normal baik secara jumlah mau pun kualitasnya. Dengan kata lain, lingkungan mikrobiotiknya rendah yang berpotensi menimbulkan alergi pada bayi. Dampaknya kemudian, alergen bisa tembus dan menimbulkan alergi.

Alergen, kata Anang, bisa berupa makanan yang pertama kontak dengan bayi, baik Air Susu Ibu atau susu formula. Kalau pada ibu yang punya alergi, ASI bisa menjadi sumber pencetus alergi pada bayi ASI. Ini terjadi ketika ibu yang alergi mengonsumsi makanan atau minuman penyebab alergi. Alergen juga bisa berasal dari susu formula yang dikonsumsi bayi. Jika ibu atau ayah (atau keduanya) memiliki riwayat alergi susu sapi, dan bayi mengonsumsi sufor, maka bayi berisiko  alergi.

Menurut Anang, alergi pada bayi sebenarnya bisa dihindari. Caranya saat hamil, ibu yang memiliki riwayat alergi atau ibu dengan suami yang memiliki alergi, mengonsumsi probiotik. Namun yang sering terjadi adalah ibu hamil salah kaprah menyikapi alergi. Anang mengatakan yang sering dilakukan ibu hamil adalah menghindari atau pantang makan makanan pencetus alergi.

"Orangtua sering salah. Supaya anak tidak alergi, orangtua pantang makanan tertentu. Ini tidak boleh dilakukan. Jika ingin mencegah alergi, akan lebih baik jika ibu melahirkan normal karena bayi kontak dengan flora normal ibu dan ini melindunginya dari alergi," ujarnya.

Karenanya dengan mengonsumsi probiotik saat hamil, ketika persalinan normal tidak bisa dilakukan akibat kondisi tertentu, dan ibu harus melahirkan melalui operasi caesar, alergi pada bayi bisa terhindari. Apalagi jika ayah dan ibu, salah satu atau keduanya, memiliki riwayat alergi.

"Probiotik dikonsumsi sejak trimester pertama kehamilan dan diteruskan hingga bayi lahir," terangnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.