Kompas.com - 25/11/2013, 16:45 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
Penulis Wardah Fajri
|
EditorWardah Fajri

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pria hanya butuh dua gen dari kromosom Y untuk bisa membuahi sel telur, demi memiliki keturunan.

Meski penelitian ini baru terbukti pada tikus jantan, para peneliti merasa yakin temuan ini bisa membantu pria yang sedang menjalani terapi kesuburan. Dengan menyuntikkan hanya dua gen saja dari kromosom Y, pria yang mengalami masalah infertilitas karena tidak bisa memproduksi sel sperma sehat, berkesempatan memiliki anak.

"Hanya dua gen dari kromosom Y yang diperlukan untuk memiliki anak dengan bantuan dalam proses reproduksi," jelas peneliti, Monika Ward, ahli biologi reproduksi di University of Hawaii, Honolulu.

Meski begitu, Ward mengatakan bukan berarti gen lain pada kromosom Y, tidak berguna. Untuk reproduksi normal, seluruh kromosom barangkali diperlukan.

"Kami tidak bermaksud menghilangkan kromosom Y pada pria. Kami hanya ingin mengetahui berapa banyak kromosom Y yang diperlukan dan peruntukannya," jelas Ward.

4. Jurnal komputasi biologi PLOS: menunggu rasa sakit lebih menyakitkan.
Tidak ada satu pun orang yang nyaman dengan rasa sakit. Namun, saat kita tahu rasa sakit itu akan datang, biasanya kita ingin segera mengakhirinya secepat mungkin.

Para peneliti di London melakukan dua eksperimen sederhana melibatkan 35 relawan. Eksperimen ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana rasa sakit memengaruhi seseorang dalam membuat keputusan. Partisipan studi ini diminta untuk memilih kapan mereka ingin menerima kejutan listrik dengan intensitas bervariasi.

Kebanyakan partisipan lebih memilih mengalami kejutan listrik sesegera mungkin dibandingkan menundanya lebih lama. Bahkan, partisipan lebih memilih kejutan listrik lebih kuat dengan catatan durasinya lebih cepat.

"Mengantisipasi rasa sakit sangat tidak menyenangkan, ketimbang rasa sakit itu sendiri," para peneliti menyimpulkan.

5. Jurnal PLOS ONE: otak kiri tak selalu berkaitan dengan kemampuan menganalisa.
Seringkali, kepribadian seseorang dikaitkan dengan fungsi otak kiri atau kanan yang lebih kuat. Ketika seseorang tidak memiliki kemampuan analisa tinggi atau kurang detil dalam melakukan sesuatu, ia dianggap memiliki kelemahan dengan otak kirinya. Sedangkan saat seseorang kreatif, otak kanan selalu menjadi kebanggaan.

Peneliti di University of Utah menyatakan seseorang tidak memiliki otak kiri lebih kuat atau otak kanan lebih kuat, atas kemampuan berpikirnya yang tajam atau kreativitasnya yang tinggi.

Untuk membuktikannya, para peneliti saraf memindai otak 10.000 orang usia 7-29 tahun untuk menemukan hipotesis yang lebih baik. Hasilnya, mereka tidak menemukan bukti yang bisa menguatkan mitos otak kanan dan otak kiri tersebut. Tidak ada bukti seseorang memiliki otak kanan lebih baik atau sebaliknya.

Aktivitas tertentu membuat salah satu otak Anda bekerja lebih keras daripada otak satunya.

"Komunitas sains saraf tidak pernah menerima anggapan bahwa otak kiri lebih dominan atau otak kanan lebih dominan terkait kepribadian seseorang. Kenyataanya adalah sangat tidak efisien ketika satu sisi otak secara konsisten lebih aktif dibandingkan sisi satunya," terang ketua tim peneliti Jeff Anderson.


Halaman:

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X