Kompas.com - 09/12/2013, 07:25 WIB
Ilustrasi madu businessweek.comIlustrasi madu
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com- Madu ternyata tidak hanya berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh. Konsumsi air hangat dengan lemon dan madu ternyata bisa membantu wanita mengurangi berat tubuhnya. Rutin konsumsi minuman ini selama seminggu bisa mengurangi bobot tubuh sebanyak 3 pon, atau setara 1,4 kilogram.

Masyarakat kemudian mengenalnya sebagai diet madu atau honey diet. Penulis asal Inggris, Mike McInnes, menjelaskan tentang diet madu dalam bukunya yang berjudul  The Honey Diet.

McInnes menjelaskan, diet madu dimulai dengan minum air hangat yang diberi perasan lemon dan madu sebanyak 1-2 sendok makan. Madu dalam diet ini akan menggantikan kebutuhan gula dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, diet madu juga mensyaratkan pengurangan konsumsi karbohidrat sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat komplek. karbohidrat sederhana terdapat dalam kentang, gandum, atau nasi.

Diet madu juga mengharuskan konsumsi sebanyak mungkin sayur. Konsumsi buah juga sebaiknya tidak terlalu banyak, karena kandungan gula dalam buah sudah digantikan madu.

Kendati begitu pendapat berbeda diungkapkan nutrisionis, Rania Batayneh, M.P.H., yang juga penulis The One One One Diet. "Orang bisa menyebutnya diet apa saja. Namun bagi saya ini adalah diet iseng," ujarnya. Hal ini dikarenakan diet madu mengharuskan asupan karbohidrat ekstrem rendah, yang digantikan dengan madu.

Padahal, madu sebanyak satu sendok makan mengandung 17 gram karbohidrat. Diet ketat dengan pola seperti itu sebaiknya tidak dilanjutkan. Hal ini dikarenakan pola diet seperti itu justru akan menambah kandungan lemak, setelah sekian lama dilakukan.

Saat diet, biasanya berat yang berkurang merupakan gabungan antara otot dan lemak. Namun saat berat tubuh kembali naik, hal tersebut sepenuhnya dikarenakan lemak. Kendati begitu, hal tersebut bukan dikarenakan konsumsi madu. Madu penuh kandungan antioksidan yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Rania mengatakan, madu harus dipandang sebagai pengganti gula bukan makanan. Dengan sudut pandang seperti itu, pola makan akan berlangsung seperti biasa. Namun konsumsi gula sehari-hari diganti madu, yang lebih baik untuk kesehatan.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Health
Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Penyakit
Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Health
Limfangitis

Limfangitis

Penyakit
Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Health
Penyakit Jantung Rematik

Penyakit Jantung Rematik

Penyakit
3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

Health
Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Health
6 Gejala Asam Urat di Lutut

6 Gejala Asam Urat di Lutut

Health
Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma Sel Skuamosa

Penyakit
10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

Health
Rahim Turun

Rahim Turun

Penyakit
6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

Health
Herniasi Otak

Herniasi Otak

Penyakit
Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.