Kompas.com - 31/12/2013, 17:12 WIB
Penulis Wardah Fajri
|
EditorWardah Fajri

3. Otot pegal, nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening.
Gejala ini mirip dengan flu atau infeksi virus lainnya, seperti sipilis dan hepatitis. Kelenjar getah bening yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, biasanya meradang jika terjadi infeksi. Infeksi biasanya terjadi di ketiak, leher, paha.

4. Sakit tenggorokan dan sakit kepala.
Seperti gejala lainnya, sakit tenggorokan dan sakit kepala juga bisa dikenali sebagai sindrom retroviral akut. Tentunya gejala ini muncul atau dialami orang yang berisiko tinggi terkena HIV.

Horberg mengatakan orang berisiko tinggi terkena HIV sebaiknya melakukan tes, demi kebaikan dirinya dan orang lain. Pasalnya, HIV paling mudah menjalar di tahap awal.

Yang perlu diingat adalah tubuh tidak memproduksi antibodi yang bisa melawan HIV. Butuh waktu berbulan-bulan untuk melihat hasil tes darah antibodi HIV. Sementara dalam waktu tersebut, bisa saja seseorang sudah terinfeksi HIV.

5. Ruam kulit.
Ruam kulit bisa muncul pada infeksi HIV stadium awal atau beberapa waktu setelahnya. "Jika ruam kulit ini sulit untuk dijelaskan kondisinya, dan sulit disembuhkan, Anda harus mulai berpikir melakukan tes HIV," saran Horberg.

6. Mual, muntah, diare.
Pada tahap awal infeksi HIV, penderitanya, 30-60 persen mengalami mual, muntah, diare, jelas Malvestutto. Gejala-gejala ini juga bisa muncul sebagai efek samping terapi antiretroviral sebagai pengobatan infeksi HIV.

7. Turun berat badan.
Berat badan turun merupakan salah satu tanda penyakit serius dan bisa jadi efek dari diare. Pada pengidap HIV/AIDS, berat badan mengalami penurunan 10 persen dan mengalami diare atau tubuh lemas dan demam selaam 30 hari.

"Jika sudah kehilangan berat badan tandanya sistem imun terkuras. Meski pasien sudah makan banyak, berat badannya tetap saja menurun. Walau begitu, hal ini semakin jarang terjadi berkat terapi antiretroviral," ungkap Malvestutto.

8. Batuk kering.
Batuk kering bisa saja petanda alergi. Namun, pada orang berisiko tinggi terkena HIV/AIDS, batuk kering perlu diwaspadai sebagai salah satu sindrom retroviral akut.

Biasanya batuk kering berlangsung bertahun-tahun dan kondisinya bertambah buruk. Obat apa pun tidak bisa menyembuhkannya. Ahli alergi pun mulai menyerah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.