Kompas.com - 14/01/2014, 14:33 WIB
Ilustrasi emosi shutterstockIlustrasi emosi
Penulis Asep Candra
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com —
Pepatah lama menyatakan bahwa tertawa adalah obat terbaik, sedangkan emosi dan amarah dapat mendatangkan penyakit. 

Sebuah penelitian membuktikan bahwa mereka yang "tersiksa" oleh amarah cenderung sembuh lebih lama dari cedera.
 
Berbagai penelitan sebelumnya mengindikasikan adanya hubungan antara perilaku temperamental, apakah itu menggertak ataupun ugal-ugalan di jalan raya, dengan tingginya kasus penyakit jantung koroner, hipertensi, dan stroke, khususnya di antara para pria. 

Namun, penelitian yang pernah dipublikasikan jurnal Brain Behaviour Immunity, menunjukkan, betapa amarah sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan. Riset yang dilakukan ilmuwan dari Universitas Ohio ini merupakan eksperimen pertama mengukur secara langsung efek amarah terhadap penyembuhan.

Dalam risetnya, para peneliti melibatkan 98 partisipan yang diberi luka kecil pada lengan. Para partisipan dipantau selama delapan hari dan dilihat seberapa cepat luka pada kulit ini sembuh dengan sendirinya. 

Sebelumnya, partsipan harus melewati semacam psikotes untuk mengetahui seberapa mudah mereka sering merasakan atau meluapkan kemarahan. Lalu, peneliti membuat peringkat berdasarkan "skala kemarahan”. Partisipan yang mengonsumsi sejenis obat-obat tertentu, merokok, minum kopi atau kafein dalam jumlah banyak dicoret dari penelitian. Hal sama juga diberlakukan pada mereka yang berat badannya terlalu ekstrem (baik kurus atau gemuk). 

Hasilnya tampak jelas. Partisipan yang bermasalah dalam mengontrol emosi atau kemarahan kecenderungannya empat kali lebih lama sembuh atau butuh waktu untuk pulih lebih dari empat hari dibanding mereka yang dapat mengendalikan amarah.
 
Namun, para peneliti juga terkejut ketika menemukan bahwa kemarahan ini juga memiliki semacam nuansa. Partisipan yang digambarkan menunjukkan sikap “anger out” (ledakan dari agresi biasa) atau “anger in” (kemarahan yang diluapkan secara tak sadar) sembuh hampir secepat mereka yang memiliki peringkat rendah pada semua skala kemarahan. Hanya mereka yang telah mencoba, tetapi gagal untuk mempertahankan perasaan amarahnya butuh waktu yang lama untuk sembuh. 

Peneliti juga mencatat bahwa kelompok yang sama ini menunjukkan sekresi hormon stres atau kortisol yang tinggi, yang setidaknya menjelaskan perbedaan waktu pemulihan. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Riset sebelumnya telah menunjukkan hubungan yang jelas antara kortisol dan amarah.  Pria yang berteriak pada pasangannya saat bertengkar tubuhnya mengeluarkan hormon modulator endokrin dalam beberapa menit, seperti halnya para guru yang mengalami stres saat mengajar di kelas. 

Peneliti mengindikasikan, kadar tinggi kortisol tampaknya menurunkan produksi dua jenis protein sitokin penting yang berperan dalam proses pemulihan. Sitokin adalah protein yang dilepaskan oleh sel-sel kekebalan tubuh. Protein ini berfungsi sebagai sinyal dalam memperluas sistem kekebalan tubuh.  

“Kemampuan dalam mengendalikan ekspresi kemarahan seseorang berkaitan secara klinis dengan dampak penyembuhan luka,” ungkap Jean-Philippe Gouin, psikolog dari Universitas Ohio, dalam kesimpulannya.

Dalam laporan riset disebutkan pula bahwa terapi mengendalikan amarah dapat membantu para pasien dalam memulihkan kondisi setelah pembedahan sehingga luka menjadi cepat sembuh.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

6 Gejala Asam Urat yang Perlu Diwaspadai

6 Gejala Asam Urat yang Perlu Diwaspadai

Health
Penis Bengkak

Penis Bengkak

Penyakit
Mengapa Penderita Diabetes Bisa Mengelamai Penglihatan Kabur?

Mengapa Penderita Diabetes Bisa Mengelamai Penglihatan Kabur?

Health
Fibroadenoma

Fibroadenoma

Penyakit
Mengapa Penderita Diabetes Rawan Terkena Gangren?

Mengapa Penderita Diabetes Rawan Terkena Gangren?

Health
Iritabilitas

Iritabilitas

Penyakit
11 Gejala Diabetes yang Perlu Diwaspadai

11 Gejala Diabetes yang Perlu Diwaspadai

Health
Infeksi Saluran Kemih

Infeksi Saluran Kemih

Penyakit
2 Cara Keliru dalam Membersihkan Telinga

2 Cara Keliru dalam Membersihkan Telinga

Health
Bulimia Nervosa

Bulimia Nervosa

Penyakit
3 Cara Aman Membersihkan Telinga

3 Cara Aman Membersihkan Telinga

Health
Aneurisma Aorta

Aneurisma Aorta

Penyakit
Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Health
Bisinosis

Bisinosis

Penyakit
Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.