Kompas.com - 16/01/2014, 11:39 WIB
|
EditorAsep Candra

Teknik perawatan ini bernama Hypoglossal-Nerve Stimulation. Prinsipnya, alat ini diimplan di dalam dada. Alat ini akan membaca gerakan nafas, hingga setiap kali menarik nafas, alat ini akan menstimulasi saraf hipoglosus di bawah rahang. Dengan stimulasi tersebut otot-otot dasar lidah akan terangsang dan mencegah pangkal lidah terjatuh menutup saluran nafas. Sehingga diharapkan dapat membuka saluran nafas saat tidur.

Penggunaan alat ini sedang diteliti efektivitasnya oleh para ahli. Salah satu penelitian yang diterbitkan pada the New England Journal of Medicine mengulas penggunaan alat ini. Dikatakan bahwa dua pertiga dari pasien mengalami perbaikan henti nafas dan kadar oksigen selama tidur. Rasa kantuk berlebih pun dilaporkan berkurang.

Setelah dipilih secara seksama ada 126 pasien yang menjalani pembedahan minor untuk memasang alat yang dikendalikan oleh remote control tersebut. Setelah digunakan selama satu tahun, indeks henti nafas tidur turun jadi 9 kali perjam, dimana rata-rata pasien mengalami henti nafas 29,3 kali perjamnya. Sementara penurun oksigen yang semula rata-rata 25,4 kali perjam, turun jadi 7,4 kali perjam.

Sayangnya, walau sudah dipilih agar memberikan hasil terbaik, ada sepertiga pasien yang tak alami perbaikan sama sekali. Sementara ada 20 pasien yang malah memburuk kondisinya. Namun oara peneliti juga masih belum bisa menjelaskan penyebabnya.

Pada pasien-pasien yang berhasil baik setelah penggunaan satu tahun, perawatan dicoba untuk dihentikan. Hasilnya, henti nafas dan kadar oksigen langsung memburuk kembali. Ini membuktikan bahwa pada kelompok pasien ini perawatan dengan alat hypoglossal-nerve stimulation berhasil baik.

Alat yang bisa dipasang lewat tindakan bedah ringan ini menjadi harapan baru bagi pendengkur dan penderita sleep apnea. Namun para ahli mengingatkan bahwa tidak semua pendengkur dapat berhasil baik dengan teknik ini. Hanya pasien dengan kondisi tertentu saja. Contohnya, penderita sleep apnea dengan struktur rahang sempit atau pendengkur dengan kegemukan. Sementara penderita sleep apnea parah dengan jumlah henti nafas lebih dari 30 kali per jam kemungkinan berhasilnya akan sangat kecil jika gunakan alat ini.

Alat yang masih dalam tahap penelitian ini diharapkan segera bisa digunakan agar semakin banyak penderita sleep apnea dapat merasakan manfaat perawatan. Sekedar mengingatkan, dengkur yang dibiarkan bisa menyebabkan hipertensi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke hingga kematian.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Kompasiana
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.