"Stunting" Masih Jadi Problem Utama Gizi Anak

Kompas.com - 25/02/2014, 16:03 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com –
Anak bertubuh pendek (stunting) merupakan indikasi buruknya status gizi. Kondisi tersebut sekaligus mengindikasikan otak tak mendapat asupan cukup, sehingga tingkat kecerdasan anak sangat rendah.

Menurut Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi, stunting masih menjadi masalah utama pemenuhan gizi anak Indonesia. “Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010 memang menunjukkan status gizi anak sudah semakin membaik. Namun nyatatanya masih banyak anak yang mengalami stunting,” kata Menkes pada perayaan Hari Gizi Nasional (HGN) bertema Gizi Baik Kunci Keberhasilan JKN, Selasa (25/2/2014).

Riskesdas 2013 menyatakan, sebanyak 37 persen anak Indonesia mengalami stunting. Angka ini memiliki sebaran yang tidak sama antar propinsi. Di beberapa propinsi angka anak yang mengalami stunting mencapai 50 persen.

Stunting tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang. “Kita mengenalnya sebagai fenomena Barker, yaitu dampak lanjutan dari stunting yang berefek pada kesehatan dan produktivitas anak,” kata Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang SDM dan Kebudayaan, Nina Sardjunani.

Tingkat kecerdasan yang menurun, menurut Nina, menyebabkan rendahnya produktivitas anak ketika dewasa. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan. Risiko tersebut belum termasuk ancaman diabetes mellitus dan penyakit jantung koroner yang diderita pada usia muda.

“Efek ini tentunya bisa mempengaruhi kondisi negara. Kecilnya pemasukan masyarakat berarti pendapatan per kapita negara tersbut rendah. Hal ini berarti Negara tersebut dilingkupi masalah kemiskinan,” kata Nina.

Berkaca dari kondisi ini, kondisi gizi anak harus segera diperbaiki. Gizi yang tercukupi diharapkan bisa memenuhi kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga anak tidak lagi tumbuh pendek.

“Pemenuhan gizi harus dimulai sejak dalam kandungan. Ketika wanita berencana hamil, pastikan selalu mengkonsumsi asupan nutrisi sesuai kebutuhan. Asupan dalam tubuh ibu menentukan pembentukan tubuh dan tumbuh kembang anak,” kata Nafsiah.

Dalam puncak perayaan HGN, Kemenkes RI juga meluncurkan 4 buku yang akan disebarluaskan  kepada masyarakat. Buku tersebut mencakup Angka Kecukupan Gizi (AKG), Pedoman Gizi Seimbang (PGS), Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS), dan komik “Ayo Sarapan Sehat.”   

“Dalam buku ini ada angka kebutuhan gizi dan tahapan supaya nutrisi anak terpenuhi. Namun cara ini sebaiknya disederhanakan sehingga mudah diikuti masyarakat,” kata Nafisah yang menambahkan mengharapkan edukasi sederhana ini dapat menurunkan angka stunting.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X