Kompas.com - 28/02/2014, 10:20 WIB
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com -
Sebuah riset yang dilakukan Baby Food Action Network (IBFAN)-Asia sebagai bagian dari World Breastfeeding Costing Initiative (WBCI) bersama Breastfeeding Promotion Network of India (BPNI) pada 2013 lalu menunjukkan, investasi yang dibutuhkan untuk menunjang keseberhasilan menyusui secara global adalah mencapai 17,5 miliar dollar AS setiap tahun.

Setiap negara perlu mengeluarkan investasi untuk hal ini. Jika tidak dilakukan, negara justru akan merugi akibat biaya medis, kehilangan nyawa bayi baru lahir, dan orang dewasa yang berhubungan dengan tidak optimalnya pemberian air susu ibu (ASI).

"Biaya yang harus dikeluarkan untuk pembiayaan kesehatan karena pemberian ASI yang tidak optimal bahkan bisa lebih mahal daripada biaya investasi," ujar Ketua Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) Mia Sutanto di Jakarta, Kamis (27/2/2014). AIMI merupakan anggota dari IBFAN Asia yang merilis riset tersebut.

Menurut Mia, daripada mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pembiayaan kesehatan, lebih baik mengeluarkan dana untuk investasi. Biaya investasi berbeda-beda, tergantung profil dari setiap negara.

Namun secara global, investasi tersebut perlu digunakan untuk menyediakan paket intervensi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menyusui. Intervensi tersebut meliputi perlindungan untuk setiap perempuan, akses informasi yang tidak biasa, dan dukungan menyusui secara optimal.

Selain itu, intervensi juga meliputi bantuan bagi perempuan yang berada di bawah garis kemiskinan dalam bentuk pengganti upah, untuk membantu mereka agar bisa tetap bersama bayinya secara eksklusif. Serta, layanan-layanan bagi ibu yang menyusui, seperti layanan kesehatan, ketenagakerjaan, kesejahteraan sosial, dan lain-lain.

Mia mengatakan, kemampuan seorang perempuan untuk menyusui adalah aset nasional, maka negara memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung gerakan ibu menyusui secara optimal. "Sudah saatnya negara turun tangan sepenuhnya untuk menyukseskan pemberikan ASI untuk bayi di Indonesia," tegasnya.

Wakil Ketua AIMI Nia Umar mengatakan, Indonesia sudah memiliki peraturan pemerintah yang mengatur ASI, seharusnya untuk menyukseskannya, investasi di bidang ini juga perlu dilakukan. "Bidang ASI perlu diprioritaskan, karena ini berhubungan dengan kesehatan," tandas Nia.

Diketahui, keberhasilan memberikan ASI secara global masih rendah. Data UNICEF menyebutkan, dari 135 juta bayi yang lahir setiap tahun di dunia, hampir 83 juta bayi tidak dapat memperoleh penyusuan yang optimal.

Hanya 42 persen (56,7 juta) ibu dan bayi yang berrhasil melakukan inisiasi menyusu dalam satu jam pertama kehidupan, 39 persen (52,6 juta) yang dapat menyusui eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dan hanya 58 persen yang melanjutkan menyusui sampai minimal usia dua tahun.

Padahal penelitian menunjukkan, bayi yang tidak diberi ASI dengan benar lebih rentan terhadap risiko berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, kanker, dan penyakit jantung di kemudian hari. Ditambah lagi, mereka cenderung mengalami keterlambatan perkembangan, dan yang paling parah adalah kematian bayi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.