Kompas.com - 08/03/2014, 10:24 WIB
shutterstock
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com -
Gula merupakan zat yang hampir selalu ada dalam makanan . Konsumsi gula yang kian meningkat dapat membahayakan kesehatan. Untuk itu, penting artinya untuk mewaspadai gula terutama pada pangan olahan.

Menurut para ahli, konsumsi gula yang tidak dibatasi adalah penyebab kematian dini yang terus meningkat kasusnya setiap tahun di dunia.

"Penambahan gula dalam pola makan sama sekali tidak diperlukan. Penambahan gula justru mengakibatkan obesitas, diabetes tipe 2, dan kerusakan gigi. Kita sudah tahu risiko ini tapi tak melakukan apapun yang penting," kata Graham MacGregor, pakar kardiologi dari London.

Bahaya gula berlebih juga tengah mengintai kaum anak dan remaja melalui  konsumsi minuman bersoda.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, tingginya angka obesitas diakibatkan kandungan gula tersembunyi (hidden sugar) pada makanan dan minuman olahan, seperti yogurt, pasta, minuman ringan atau bersoda, jus, dan smoothies.

"Obesitas dialami miliaran orang di dunia dan angkanya terus meningkat. Gula layaknya tembakau yang membahayakan kesehatan publik.  Dengan mengonsumsi sekaleng minuman bersoda saja, berarti asupan gula dalam sehari sudah dipenuhi. Karena itu, hati-hatilah dalam konsumsi minuman bergula," ujar direktur nutrisi untuk kesehatan dan perkembangan dari WHO, Francesco Branca yang menegaskan gula merupakan penyebab utama naiknya berat badan anak.

Terkait bahaya kandungan gula, WHO telah menerbitkan draft panduan diet. Dalam draft tersebut, orang dewasa disarankan tidak melebihi 12 sendok teh per hari. Konsumsi maksimal 6 sendok teh merupakan jumlah terbaik yang disarankan.

Sementara untuk anak, batas yang disarankan kurang dari 6 sendok teh. Anak tidak boleh mengonsumsi minuman bersoda yang rata-rata mengandung gula setara 7 sendok teh.  Pembatasan gula dapat mencegah obesitas, penyakit jantung, dan berbagai gangguan serius lainnya.

Panduan konsumsi gula saat ini masih didiskusikan di kalangan akademis dan ahli kesehatan sebelum dipublikasikan. Namun Branca mengatakan, industri makanan dan minuman harus mulai membatasi jumlah gula yang digunakan.

Menurut MacGregor, draft ini akan menjadi alarm bagi pemerintah dan departemen kesehatan terkait konsumsi makanan dengan gula tinggi. Pemerintah dapat menekan industri pengolahan makanan untuk secara perlahan mengurangi kandungan gula dalam produknya. Pembatasan asupan gula juga akan dilakukan pada produk untuk anak, beserta kandungan lemak dan garam.


Sumber dailymail
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X