Kompas.com - 21/03/2014, 08:00 WIB
Ilustrasi bakteri Clostridium botulinum istIlustrasi bakteri Clostridium botulinum
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com- Bakteri TB (Basil tuberkulosis) yang menginfeksi tubuh tidak selalu menyebabkan penyakit. Bakteri tersebut bisa juga melakukan dormansi atau "tidur" (disebut juga sebagai TB laten) sehingga tidak menimbulkan gejala penyakit apapun. Barulah ketika daya tahan tubuh melemah, bakteri ini "bangun" kembali dan mulai menyebabkan penyakit.

Bakteri TB mudah menular melalui udara. Kontak dengan pasien TB dengan jarak kurang dari satu meter berpotensi untuk menularkannya. Lantas, apakah bakteri yang "tidur" juga dapat menular?

Menurut dokter spesialis paru dari RS Persahabatan Arifin Nawas, saat tengah melakukan dormansi, bakteri TB tidak akan menular. Bakteri tersebut baru menular ketika daya tahan tubuh seseorang menurun dan seseorang mulai sakit. Arifin mengatakan, tubuh memiliki daya tahan tubuh yang dapat mencegah terinfeksi TB.

"Saat seseorang melakukan kontak dengan penderita TB, maka 70-90 persen ia tidak akan terinfeksi, sisanya baru terinfeksi," jelasnya dalam acara diskusi SOHO #BetterU bertajuk Hari Tuberkulosis Sedunia di Jakarta, Rabu (19/3/2014).

Dari 10-30 persen yang terinfeksi tersebut, 90 persennya akan menjadi TB laten dan 10 persennya aktif. Menjadi laten atau aktifnya bakteri setelah menginfeksi ditentukan oleh daya tahan tubuh seseorang saat itu.

"Nah, ketika seseorang sedang mengalami TB aktif, pilihannya ada dua, diobati atau tidak. Jika tidak diobati maka pasien bisa meninggal dalam dua tahun, atau ada juga yang bertahan," ujar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ini.

Sementara jika diobati dengan baik, pasien bisa sembuh. Namun jika pengobatan dilakukan dengan tidak sesuai aturan, maka bakteri TB berpotensi untuk menjadi resisten dan menimbulkan multidrug resistant TB (MDR TB). Diketahui pengobatan MDR TB lebih berat daripada TB biasa, selain jauh lebih mahal, efek kepada tubuhnya pun lebih berat. Pasien bisa merasakan mual bahkan halusinasi.

"Maka kunci pengobatan TB adalah kepatuhan. Jika harus minum obat selama enam bulan, ya harus enam bulan. Memang gejala akan membaik setelah bulan kedua, namun pengobatan tetap harus dilanjutkan hingga selesai," kata Arifin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X