Kompas.com - 04/04/2014, 16:33 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi "cabe-cabean" pada anak SD
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Remaja yang menawarkan seks demi uang atau yang kini populer dengan istilah "cabe-cabean" menghadapi risiko kesehatan yang tidak kecil. Mereka berisiko tinggi tertular dan menularkan HIV, serta infeksi menular seksual (IMS).

"Jika tidak menggunakan pengaman mereka sangat rentan tertular. Karena itu, penting bagi mereka untuk sadar akan penggunaan pengaman, seperti kondom," ujar seksolog dan spesialis andrologi, Wimpie Pangkahila saat dihubungi Kompas Health, Kamis (4/4/2014).

Wimpie mengatakan, prevalensi HIV pada kelompok remaja cukup tinggi, meskipun jumlahnya masih di bawah kelompok dewasa muda. Tetapi ini membuktikan bahwa remaja juga menjadi kelompok yang paling berisiko tertular dan menularkan HIV, termasuk IMS.

Data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional hingga Juni 2013 menunjukkan ada 1.996 kasus infeksi HIV baru pada kelompok usia 15-24 tahun. Maka seks pada remaja, termasuk fenomena "cabe-cabean", perlu menjadi perhatian untuk menekan meningkatnya angka penularan.

Kendati demikian, menurut Wimpie, kemungkinan remaja yang berhubungan seksual sudah banyak yang memakai pengaman. Alasannya mereka khawatir terjadinya kehamilan. Tapi tetap saja tidak ada jaminan mereka selalu memakai pengaman setiap berhubungan seksual sehingga mereka tetap berisiko tinggi untuk HIV dan IMS. Apalagi, tidak ada gejala klinis dari seseorang yang sudah terinfeksi HIV.

Gejala terinfeksi HIV baru muncul jika seseorang sudah dalam tahapan AIDS, yaitu daya tahan tubuhnya sudah sangat rendah dan rentan terkena penyakit infeksi lainnya. Maka tidak heran jika seseorang yang terinfeksi HIV saat remaja baru tahu dirinya mengidap HIV ketika dewasa.

"Gejala infeksi HIV baru akan terlihat 5-10 tahun kemudian setelah terinfeksi. Itulah yang menyebabkan kebanyakan dari orang yang terinfeksi tidak menyadarinya," tutur pakar ilmu penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) Samsuridjal Djauzi, saat ditemui dalam kesempatan berbeda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wimpie menegaskan, hubungan seksual yang dilakukan secara tidak aman tentu berisiko. Baik itu penularan HIV, IMS, ataupun kehamilan yang tidak direncanakan sehingga berujung pada aborsi yang berpotensi mematikan.

Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X