Kompas.com - 26/04/2014, 14:33 WIB
shutterstock
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com —
Minimnya edukasi tentang kanker pada anak menimbulkan stigma keliru yang menghambat pergaulan mereka. Anggapan bahwa kanker menular dan tak terobati membuat mereka dikucilkan sehingga stigma tersebut harus dihentikan.

”Tidak hanya dijauhi teman- teman sebayanya. Bahkan, ada orangtua melarang anaknya bermain dengan anak penderita kanker,” kata Pembina Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Mardi Santosa di sela perayaan Hari Kartini, di Rumah Kita, Jakarta, Jumat (25/4).

Pada perayaan itu, sekitar 20 anak berkarnaval mengenakan pakaian daerah. Ada pula pertunjukkan tari anak penderita kanker yang penuh semangat dan keceriaan. Aktivitas itu memberikan semangat yang berdampak positif pada pengobatan.

Saat ini, kata Mardi, tak sedikit orang masih menganggap bahwa kanker adalah penyakit menular dan berbahaya bagi masyarakat di lingkungan anak penderita. Stigma itu berdampak buruk.

Pada awal berdiri tahun 2006, stigma itu pula yang sempat menghambat YKAKI menempati rumah petak yang dijadikan Rumah Kita di Jakarta. Warga sekitar menolak kehadiran anak-anak penderita kanker itu.

Ketua YKAKI Ira Soelistyo mengatakan, kini pihaknya punya program sosialisasi dan edukasi yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kanker pada anak. Program itu menyasar dokter-dokter umum di puskesmas, penggerak posyandu, dan penggerak pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK).

Dokter-dokter umum di puskesmas merupakan garda depan penanganan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, mereka perlu informasi baik mengenai gejala kanker pada anak. ”Pengetahuan tentang gejala penting. Sebab, deteksi dini kanker pada anak memperbesar peluang kesembuhannya,” ujar Ira.
Kesembuhan

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kesembuhan kanker pada anak bisa mencapai 70 persen asalkan dideteksi dini, pengobatan konsisten, dan dirawat dengan baik. Semua tahapan itu sangat menentukan dalam pengobatan.

Pihak YKAKI juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Masyarakat perlu tahu bahwa kanker anak berbeda dengan kanker pada orang dewasa, yang tingkat kematiannya tinggi.

Kanker yang banyak ditemukan pada anak ialah kanker darah (leukemia), kanker mata (retinoblastoma), dan kanker otak.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun penderita kanker di dunia meningkat 6,25 juta orang, empat persen di antaranya anak-anak. Adapun 75-90 persen kanker pada anak tak diketahui penyebabnya. Di Indonesia, 150 dari 1 juta anak menderita kanker. Setiap tahun, 4.100 kasus baru. (A07)


Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X