Kompas.com - 03/06/2014, 02:14 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani

Wallace adalah warga Kansas. Begitu terdaftar dalam program uji coba itu, para petugas medis mengambil sebagian tumornya, mengisolasi satu sel kekebalan tubuh yang menyerang sel tumor dan melipatgandakannya di laboratorium.

Dalam jumlah miliaran, sel kekebalan tubuh dari laboratorium tersebut dimasukkan ke badan Wallace lewat satu kali infus. Para dokter juga memberi Wallace obat untuk memacu kekebalan tubuhnya. "Seperti Gatorade untuk sel," sebut Wallace.

Meski demikian, salah satu pemimpin penelitian ini, Dr Christian Hinrichs, dari lembaga kanker Bethesda yang berbasis di Maryland, mengatakan, sejauh ini tak ada cara untuk memastikan apakah hasil dari metode terapi tersebut akan permanen. Dia mengatakan, pasien kedua sudah bersih dari sel kanker dalam 15 bulan terakhir.

Selain itu, pasien ketiga sudah mendapatkan hasil berkurangnya sel kanker dalam tiga bulan terakhir. Adapun enam perempuan lain tak memperlihatkan respons atas metode terapi yang sama. Para dokter sedang menganalisis perbedaan respons ini.

Saat ini para dokter berencana mencoba metode peningkatan kekebalan tubuh ini pada lebih banyak perempuan dengan kanker serviks stadium lanjut. Mereka berharap suatu saat metode tersebut dapat ditawarkan ke pusat pengobatan kanker, yang sekarang harus menawarkan metode transplantasi sumsum tulang belakang dan stem cell.

Kalangan swasta juga terus berlomba menemukan obat dan terapi yang efektif mengatasi beragam kanker. Serangkaian penelitian dengan variasi dampak juga terus bermunculan.

Terapi kekebalan sudah digagas selama bertahun-tahun, tetapi capaiannya masih sangat kecil. "Namun, sekarang kita punya rudal jelajah, yang memiliki kemampuan lebih baik untuk membunuh sel kanker," kata Dr Steven O'Day dari University of Southern California.

Namun, beberapa kalangan menyambut penelitian ini dengan lebih hati-hati, dengan menyatakan banyak penelitian yang pada awalnya terlihat menjanjikan kemudian berubah menjadi capaian terbatas setelah ada penelitian lanjutan. "Ini tidak selalu bekerja dengan cara yang semula terlihat akan terjadi," kata Dr Len Lichtenfeld, Wakil Kepala Medis dari American Cancer Society.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.