Remaja Makin Permisif pada Seks

Kompas.com - 13/06/2014, 15:21 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Perilaku remaja kian permisif terhadap seksualitas. Meski telah memiliki pengetahuan tentang infeksi menular seksual dan setuju bahwa hubungan seks pranikah tak boleh dilakukan sebelum menikah, jumlah remaja yang berhubungan intim pranikah tetap tinggi.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Agustin Kusumayanti memaparkan hal itu pada seminar bertema ”Remaja Berkualitas, Indonesia Sejahtera” dalam rangka Hari Keluarga Nasional, Kamis (12/6), di Surabaya.

Acara itu juga dihadiri Guru Besar Psikologi Universitas Surabaya Jatie K Pudjibudojo dan Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso.

Agustin mengatakan, tidak ada korelasi sikap dan pengetahuan remaja seputar hubungan seksual pranikah dengan perilaku seksual yang ditunjukkannya. Berdasarkan data Sensus Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, sebanyak 8,3 persen remaja laki-laki dan 1 persen remaja perempuan berusia 15-24 tahun telah berhubungan seks pranikah. Mereka kebanyakan tinggal di perkotaan.

Padahal, remaja itu memiliki pengetahuan tentang pubertas, HIV/AIDS, dan penyakit infeksi menular seksual (IMS). Bahkan, lebih dari 80 persen dari total populasi remaja yang disensus menyatakan tidak setuju dengan perilaku seks pranikah.

Namun, ternyata perilaku seksual mereka tak berbanding lurus dengan pengetahuan dan sikapnya. Pegangan tangan, berciuman, hingga saling bersentuhan merupakan beberapa hal yang biasa dilakukan sebagian remaja ketika berpacaran.

Kehamilan tak diinginkan

Jatie menambahkan, remaja yang melakukan hubungan seks pranikah kerap berakhir dengan kehamilan tidak diinginkan dan sebagian besar dari mereka terpaksa menikah. Hal itu mengakibatkan remaja perempuan hamil kian banyak dan melahirkan pada usia muda.

”Masyarakat sedang sakit. Tata nilai yang dianut orangtua harus diubah,” kata Agustin.

Orangtua harus mulai terbuka membicarakan pendidikan seks di rumah. Di sekolah, pendidikan kesehatan reproduksi harus diberikan dan lingkungan mesti turut mengontrol perilaku remaja.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X