Kompas.com - 20/06/2014, 10:09 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -
Jika selama ini banyak orang beranggapan masalah lambung berkaitan erat dengan makanan, ternyata ciuman pun bisa menjadi sarana penyebarannya. Ini karena bakteri penyebab gangguan lambung, Helicobacter pylori, bisa menular melalui ciuman.
 
Dokter spesialis gastroenterologi Marcellus Simadibrata mengatakan, dulu diduga penyebaran H. pylori adalah melalui alat-alat makan. Namun, penelitian membuktikan bakteri tersebut justru menyebar dari kontak oral-oral. Dengan kata lain, seluruh aktivitas yang melibatkan kontak oral-oral, termasuk berciuman, bisa menularkan H. pylori.
 
"Malah alat-alat makan tidak terbukti menyebarkan H. pylori," kata Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit dr Cipto Mangunsumo (FKUI/RSCM) ini saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
 
H. pylori merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit dispepsia atau peradangan pada lambung, termasuk maag. Infeksi H. pylori yang dibiarkan secara terus menerus bisa menimbulkan penyakit pencernaan lainnya, seperti ulkus hingga kanker lambung.
 
H. pylori terdapat pada muntahan maupun feses (kotoran) sehingga penularanya bersifat oral-fekal. Artinya, bila ada kegiatan yang membuat mulut bersentuhan dengan cipratan muntah atau tangan yang belum dicuci setelah menyentuh feses maka risiko terinfeksi sangat tinggi.
 
Deteksi infeksi H. pylori bisa dilakukan dengan pemeriksaan invasif maupun non-invasif. Untuk pemeriksaan invasif bisa dilaukan dengan endoskopi biopsi.
 
"Diambil sampel dari sana, dikulturkan, lalu dites urease. Bakteri itu mengeluarkan enzim urease, bila hasilnya positif maka benar itu adalah H. Pylori," papar dokter spesialis gastroenterologi ini.
 
Kultur bakteri juga bisa dilihat dengan mikroskop histopatologi untuk menentukan strain yang ada dari ciri-ciri fisik. Menurut Marcellus, jika terdapat bakteri yang dimaksud maka akan terlihat dengan jelas.
 
Pemeriksaan juga bisa dilakukan secara non-invasif yaitu dengan tes napas ataupun feses. Jika positif HPSA maka seseorang mungkin terinfeksi H. pylori.
 
Semakin dini bakteri ini dideteksi maka semakin kecil konsekuensi yang ditimbulkan dari infeksi. Pengobatan bisa dilakukan dengan memberikan dua antibiotik dan satu penekan asam lambung. Pengobatan umumnya dilakukan selama dua minggu. 


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X