Kompas.com - 21/07/2014, 13:15 WIB
Ilustrasi napas bau ShutterstockIlustrasi napas bau
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Percuma saja memiliki gigi yang berderet rapi namun saat berbicara keluar aroma napas yang tidak sedap. Tak heran jika bau mulut menjadi alasan terbanyak orang ke dokter gigi, selain masalah gigi keropos dan penyakit gusi.

Akar masalah dari permasalahan bau napas tak sedap adalah higienitas mulut yang buruk, terutama setelah makan. Aroma yang tidak sedap juga tidak hanya berdampak pada kepercayaan diri, tapi perlu diwaspadai adanya komplikasi penyakit kronik yang diderita.

Makanan yang dimakan tentu mempengaruhi bau napas. Bila seseorang makan makanan dengan bau yang kuat, seperti bawang putih atau bawang merah, baunya biasanya akan tercium pada napas.  Ini karena minyak dengan bau menyengat dalam bawang akan masuk ke aliran darah dan menyebabkan bau napas.

Sayangnya, menyikat gigi dan berkumur dengan cairan kumur tak banyak menghilangkan baunya. Bau tersebut baru bisa hilang setelah makanan itu dikeluarkan oleh tubuh.

Selain makanan yang berbau kuat, bau mulut dapat terjadi karena masih ada sisa-sisa makanan di gigi meski sudah disikat sekalipun. Sisa-sisa makanan ini dapat menjadi makanan bagi tumbuhnya bakteri sehingga menumpuk di dalam mulut dan menyebabkan bau napas.

Merokok dan mengunyah tembakau juga dapat memicu bau napas juga. Sisa-sisa tembakau akan menetap di sela-sela gigi dan menjadi sarana tumbuh bakteri. Lebih jauh, perokok juga berisiko lebih tinggi untuk mengalami permasalahan gusi.

Jika Anda menderita penyakit kronik, seperti diabetes dan gagal ginjal, kemungkinan untuk mengalami bau napas tidak sedap sangatlah besar. Pada pasien diabetes, tubuh mereka tidak mampu memecah glukosa sebagai sumber energi dengan sempurna dan sebagai gantinya lemak yang dicerna. Produk sampingan hasil cernaan lemak berupa keton inilah yang berkontribusi menyebabkan bau napas.

Begitu pula dengan orang dengan gagal ginjal, bedanya senyawa yang menyebabkan bau mulut bukanlah keton, melainkan dimetil sulfat.

Solusi untuk permasalahan ini sebenarnya mudah, yaitu dengan memperbaiki kebersihan mulut atau mengendalikan penyakit kronik yang diderita. Alat tambahan berupa sikat lidah juga mampu membantu membersihkan bakteri di permukaan lidah yang menyebabkan bau mulut.

Selain itu, minum banyak air, mengunyah permen karet tanpa gula juga bisa membantu. Ini karena aktivitas-aktivitas tersebut mampu meningkatkan produksi liur yang membersihkan sisa-sisa makanan dan bakteri penyebab bau pada mulut.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X