Kompas.com - 02/08/2014, 14:18 WIB
Warga menyemprotkan disinfektan untuk mensterilkan perlengkapan dari virus ebola sebelum digunakan, di sebuah kawasan di Conakry, Guniea. AFP PHOTO / CELLOU BINANIWarga menyemprotkan disinfektan untuk mensterilkan perlengkapan dari virus ebola sebelum digunakan, di sebuah kawasan di Conakry, Guniea.
EditorLusia Kus Anna

Gejala infeksi ebola didahului dengan demam, badan melemah, otot kejang, dan tenggorokan sakit. Selanjutnya, seperti diuraikan WHO, penderita akan muntah-muntah, diare, dan pada beberapa kasus terjadi pendarahan dalam dan luar.

Di sisi lain, kondisi penderita amat cepat menjadi parah. Kalaupun dinyatakan sembuh, selama tujuh pekan kemudian masih berpotensi menularkan. Hingga saat ini, ebola baru ditemukan di Afrika meski ada strain lain yang ditemukan di Filipina.

Mudah menular

Penyakit infeksi ebola, seperti infeksi lainnya, mudah menular. Penyakit ini bisa menular melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, di antaranya kelelawar, simpanse, dan antelop (sejenis rusa).

Penularan antarsesama manusia bisa melalui kontak langsung dengan darah yang terinfeksi, cairan tubuh atau organ tubuh, atau melalui lingkungan yang tercemar, misalnya handuk di tempat publik.

Namun, Piot sebagai penemu virus ebola berpendapat lain. Wabah di Afrika Barat ini dinilainya tidak akan memicu wabah di luar kawasan. Kepada kantor berita AFP, Rabu (30/7), ia mengatakan, ”Meski meluas di populasi yang besar di sini, saya tidak khawatir (ini menyebar).” Dia bahkan menyatakan berani duduk di samping penderita infeksi ebola.

Menurut dia, kepanikan yang muncul saat ini akibat dari tidak adanya kepercayaan masyarakat pada pihak yang berwenang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengabaian

Mengapa ebola menjadi demikian menakutkan seakan tak tersembuhkan? Menurut Guru Besar Virus dan Biologi Molekular Universitas Udayana, Bali, Gusti Ngurah Mahardika, ”Penyakit flu burung, rabies, HIV/AIDS juga mematikan. Ebola tidak sendirian.”

Persoalan terletak pada pengabaian. Penelitian tentang penyakit itu amat minim. ”Penyakit ini terjadi di negara berkembang sehingga cenderung tidak mendapat perhatian dari peneliti-peneliti Eropa atau AS. Ini dicuekin. Risetnya tidak cukup gencar dilakukan,” ujar Ngurah.

Selain itu, tambahnya, mencari hewan model untuk kondisi manusia itu sulit. ”Penyakit itu di manusia terjadi dengan hebatnya, sementara pada hewan tidak demikian parah,” katanya.

Selain itu, faktor ekonomi juga memengaruhi. ”Ekonomi di negara berkembang terbatas,” katanya lagi.

Seperti dikatakan Piot, Ngurah menambahkan, sudah ada sejumlah vaksin dihasilkan untuk mengobati ebola. ”Setidaknya, sudah mencegah kera mati. Namun, sistem yang mengatur percobaan pada manusia amat ketat,” kata Ngurah.

Meski demikian, Ngurah berpendapat, ”Apa pun teknologi yang ada, meski tidak sempurna, pasti bisa mengurangi tingkat kematian. Mestinya ini bisa tersedia untuk publik. Biayanya memang jadi amat mahal,” ujarnya. Jadi, sebenarnya jalan penyembuhan sudah dirintis. (KOMPAS/Brigitta Isworo Laksmi)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Trikomoniasis
Trikomoniasis
PENYAKIT
Nyeri Tumit
Nyeri Tumit
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Regurgitasi Aorta

Regurgitasi Aorta

Penyakit
Mengenal Double Pneumonia, ketika Infeksi Menyerang Kedua Paru

Mengenal Double Pneumonia, ketika Infeksi Menyerang Kedua Paru

Health
Apakah Susu Efektif untuk Mencegah Osteoporosis?

Apakah Susu Efektif untuk Mencegah Osteoporosis?

Health
Gangguan Makan

Gangguan Makan

Penyakit
Cara Meredakan Sakit Akibat Gigi Bungsu Tumbuh

Cara Meredakan Sakit Akibat Gigi Bungsu Tumbuh

Health
5 Hal yang Bisa Membuat Gula Darah Melonjak

5 Hal yang Bisa Membuat Gula Darah Melonjak

Health
Iktiosis

Iktiosis

Penyakit
Kenali Pendarahan Implantasi, Tanda-tanda Awal Kehamilan

Kenali Pendarahan Implantasi, Tanda-tanda Awal Kehamilan

Health
6 Cara Tingkatkan Daya Tahan Tubuh untuk Hindari DBD

6 Cara Tingkatkan Daya Tahan Tubuh untuk Hindari DBD

Health
Hepatitis C

Hepatitis C

Penyakit
Cara Mengatasi Kuku Mengelupas

Cara Mengatasi Kuku Mengelupas

Health
Achondroplasia

Achondroplasia

Penyakit
Apakah Mengeluarkan Sperma Terlalu Sering Mengakibatkan Osteoporosis?

Apakah Mengeluarkan Sperma Terlalu Sering Mengakibatkan Osteoporosis?

Health
Trikomoniasis

Trikomoniasis

Penyakit
Tak Hanya Benjolan, Inilah Gejala Lain Kanker Payudara

Tak Hanya Benjolan, Inilah Gejala Lain Kanker Payudara

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.