Kompas.com - 10/08/2014, 16:28 WIB
EditorLusia Kus Anna

CrossFit

Tiga bulan lalu, Muhammad Abgari (33) menyadari ada yang harus diubah dari gaya hidupnya. Bobot tubuh Agam, panggilan akrabnya, mencapai 85 kilogram dengan tinggi tubuh 170 sentimeter. Kadar kolesterol total ayah dari Rayna (4) dan Razka (1) ini bertengger di angka 385 mg/dl, melampaui batas normal 200 mg/dl. Agam lantas bergabung dengan komunitas FitCamp dan CrossFit Equator dan rutin berlatih di pelataran Hotel Garden, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Seperti di Studio 20Fit, crossfit merupakan olahraga berintensitas tinggi, yakni dilakukan dalam waktu pendek yaitu maksimal selama 15 menit, tetapi sangat menguras tenaga. Dalam waktu pendek itu, peserta melakukan dua atau tiga macam gerakan berulang-ulang dan bergantian dalam jumlah tertentu tanpa putus.

Pendiri komunitas FitCamp dan CrossFit, sekaligus juga pelatih, Pandji Brian, menerangkan, crossfit merupakan olahraga yang memadukan latihan gymnastic dan angkat beban. Model olahraga ini awal perkembangannya digagas mantan pesenam Greg Glassman di California, Amerika Serikat, sejak pertengahan tahun 1990-an. Lama-kelamaan, crossfit berkembang pesat di AS dan di berbagai belahan dunia.

Di Jakarta, Indonesia, Brian memulainya di garasi rumahnya di kawasan Simprug, Jakarta Selatan, pada tahun 2011. Selain crossfit, Brian juga memperkenalkan fitcamp, yang memiliki rezim latihan yang serupa dengan crossfit namun tanpa angkat beban. Biasanya, setelah mengikuti fitcamp, orang akan tergerak masuk ke latihan crossfit.

Pada prinsipnya, crossfit merupakan rezim latihan fisik yang bertumpu pada gerakan-gerakan fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan-gerakan itu seperti berjongkok, melompat, mendorong, menarik, dan melempar. Angkat beban pun diperlukan karena dalam kehidupan sehari-hari hal itu dilakukan oleh siapa pun, seperti menggendong anak serta mengangkat atau mendorong perabot.

Olahraga crossfit bertujuan mencapai kebugaran dan kekuatan tubuh yang maksimal, bukan semata estetika bentuk tubuh. Tujuannya, setiap orang bisa tetap kuat, bugar, dan bertenaga hingga di usia tua. Sementara, kehilangan bobot tubuh yang berlebih bersifat bonus yang akan sangat menyenangkan.

”Sekarang setelah tiga bulan rutin latihan, bobot saya 75 kilogram, stabil. Tapi ukuran pakaian, terutama celana sempat tetap turun walaupun bobotnya sudah tetap stabil,” ujar Agam.

Pengalaman serupa juga dialami Monique Hardjoko (37). Gaya hidup Monique diakuinya berantakan. Makan seenaknya, merokok, dan tidak berolahraga. Dengan tinggi 160 sentimeter, bobot Monique sempat mencapai 76 kilogram. Ibu dua anak ini pun sempat mencoba beragam diet yang bersifat instan. Walau sempat turun, tetapi tak bertahan lama. Dia pun bertekad berubah dengan diawali berhenti merokok.

Kini setelah rutin berlatih crossfit, bobot Monique telah stabil di angka 55 kilogram. ”Ajaibnya, walau beratku tetap di 55 kg, ukuran bajuku turun 3 tingkat ke size 6. Dulu malah 14. Ini karena badan jadi toned (memadat), lebih banyak otot yang menggantikan massa lemak,” kata Monique.

Brian juga mengingatkan, ada keyakinan yang keliru di kalangan orang awam pada umumnya soal bobot tubuh. Padahal, yang lebih penting tubuh memadat, kencang, dan lentur sehingga kekuatan dan fleksibilitas membaik.

Meski begitu, Monique dan Agam menganggap pencapaian tampilan fisik itu sebagai bonus. Hal-hal lain di luar tampilan jauh lebih disyukuri. Monique merasa jauh lebih produktif dan bertenaga sehari-hari dalam bekerja. Tidak mudah mengantuk setelah makan siang dan performa kerja pun meningkat.

Begitu pula dengan Agam yang mengaku ingin tetap sehat sehingga bisa menyaksikan anak-anaknya tumbuh besar hingga dewasa. ”Kalau saya sederhana saja. Di umur 60 tahun ke atas nanti bisa gampang langsung berdiri dari duduk, kuat jalan, naik tangga, gampang angkat barang, dan bisa tetap kuat angkat galon air minum,” kata Brian tertawa. (Sarie Febriane)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.