Kompas.com - 14/08/2014, 14:21 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Penyakit akan terus beradaptasi, berkembang, dan berevolusi merespons dinamika alam dan aktivitas manusia. Globalisasi yang memungkinkan pergerakan orang dan barang lintas negara dengan cepat akan memungkinkan penyebaran penyakit kian luas. Maka, kondisi kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia pun terancam, termasuk Indonesia.

Pada abad ke-21 ini, kita menyaksikan munculnya penyakit menular yang baru (new emerging), penyakit lama yang sempat menurun kejadiannya, tetapi muncul kembali (reemerging), atau bahkan lahir penyakit yang resisten atau kebal terhadap obat.

Penyakit itu antara lain human immunodeficiency virus (HIV), sindrom pernapasan akut parah (severe acute respiratory syndrome/SARS) tahun 2003 di Tiongkok, flu burung (H5N1) dan H7N9, serta flu babi (H1N1). Tahun ini, kita dikejutkan dengan merebaknya kasus sindrom pernapasan Timur Tengah yang disebabkan virus korona (MERS-CoV) dan kembali munculnya wabah ebola di Afrika. Sekitar 75 persen dari beragam penyakit itu bersumber dari binatang (zoonosis).

Beraneka ragam spesies hewan peliharaan ataupun hewan liar dapat menjadi reservoir patogen, bisa berupa virus, bakteri, ataupun parasit. Mayoritas penyakit menular itu muncul di wilayah Asia dan Afrika.

Kepala Pusat Penelitian Zoonosis-Flu Burung Universitas Airlangga, Surabaya, yang juga anggota Komisi Nasional Penyakit New Emerging dan Reemerging Kementerian Kesehatan, Chairul A Nidom, memaparkan, secara alamiah, makhluk hidup, termasuk mikroorganisme, akan terus berupaya mempertahankan hidupnya. Dalam konteks itu, tak ada satu pun makhluk hidup ingin mencelakakan pihak lain.

Akan tetapi, kenyataannya, tak semua makhluk hidup mampu mereplikasi dirinya secara mandiri. Ada sejumlah makhluk hidup yang memerlukan pihak lain sebagai tempat (host) untuk bisa mengembangkan diri.

Demikian juga patogen yang ada pada binatang. Ia bisa melompat dan berpindah ke manusia. Tubuh yang belum mengenali patogen itu tak bisa mempertahankan kekebalan tubuh. Akibatnya, banyak orang sakit, bahkan meninggal dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia mencontohkan flu burung yang berasal dari unggas yang sakit akibat virus influenza A subtipe H5N1. Tak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat secara global, penyakit itu juga berdampak secara ekonomi pada sejumlah negara. Sektor peternakan unggas terpukul akibat adanya kasus flu burung.

Antarmanusia

Penyakit pada manusia yang bersumber binatang bisa juga bertransmisi antarmanusia. Sumber penyakit bisa bermutasi dan menghasilkan varian baru penyakit. Ebola yang kini mewabah di Afrika menjadi contoh penyakit yang muncul kembali setelah lama hilang.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X