Kompas.com - 14/08/2014, 16:45 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Berawal dari sukarela memberikan air susu ibu kepada bayi yang membutuhkan, kini Indar Wamindari (29) telah membantu sekitar 100 bayi. Kesibukan ibu dua anak itu sebagai pegawai negeri sipil tidak menghalangi niat baiknya tersebut.

Titik awal Indar memutuskan menjadi donor air susu ibu (ASI) adalah saat dia membantu seorang sepupunya yang kesulitan memberi ASI untuk anak pertamanya. Dia membantu sang sepupu dengan pasokan ASI yang telah dia simpan dalam botol yang berkapasitas sekitar 150 mililiter. Botol susu itu disimpan dalam mesin pembeku (freezer).

”Limpahan ASI itu merupakan anugerah. Dengan itulah saya memiliki kesempatan untuk menolong bayi-bayi yang membutuhkan,” kata Indar yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada Kementerian Pekerjaan Umum.

Indar memang memprioritaskan donor ASI bagi bayi-bayi yang kurang beruntung, mulai dari bayi lahir prematur, bayi pengidap sakit kuning, bayi piatu, hingga bayi yang ibunya kesulitan memproduksi ASI.

Kesibukan Indar sebagai PNS yang bekerja dari pagi hingga sore membuat dia harus memompa ASI untuk bayinya. Ini adalah pengganti pemberian ASI secara langsung. Indar memompa ASI sekitar lima jam per hari. Dalam sehari, dia bisa menghasilkan hingga 10 botol ASI.

Berlebih

Botol-botol yang setiap hari dia isi ASI itu ternyata amat berlebih bagi kedua anaknya, Akhtar Dimitriy Prayoga (2 tahun 4 bulan) dan Albarra Eshan Prayoga (11 bulan). Hal ini juga menyebabkan penuhnya kapasitas empat wadah pembeku miliknya yang berkapasitas 350-400 botol.

Alhasil, sejak anak keduanya berusia satu bulan, dia juga memberikan simpanan ASI itu kepada teman-teman terdekatnya.

Tak disangka, dari niat baik membantu orang-orang terdekat itu, kemudian diketahui pula oleh orang lain. Melalui jasa kurir ASI yang mengantarkan ASI kepada teman-temannya, pasokan botol ASI yang dia simpan diketahui secara luas. Sejak itu, puluhan orang menghubungi dia untuk menjadi penerima botol-botol ASI tersebut.

Sebagai kriteria, Indar hanya mengharuskan bayi yang meminum ASI tersebut berjenis kelamin laki-laki.

”Sesuai ajaran agama Islam, saudara sepersusuan dilarang menikah. Itulah yang mendasari saya memberlakukan kriteria itu,” kata dia.

Biaya kurir

Selain kriteria tersebut, Indar tidak mensyaratkan apa pun. Dia juga tidak memungut biaya bagi penerima ASI. Sang penerima ASI hanya butuh membayar biaya kurir ASI yang mengambil botol-botol di rumahnya di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Bahkan, Indar membeli sendiri botol dan wadah pembeku.

Dia menyadari, kondisi bayi yang masih rentan terkadang alergi pada makanan tertentu. Oleh karena itu, dia selalu mengatakan kepada calon penerima ASI bahwa dia tidak melakukan pantangan makanan atau bahan makanan tertentu.

”Saya selalu bilang bahwa saya pemakan segala,” kata istri Andika Eka Prayoga (31) ini.

Hingga kini, Indar mendukung pemberian ASI sampai enam bulan usia bayi, sesuai anjuran ASI eksklusif yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif.

Bagi satu bayi, dia memberikan 40 botol ASI untuk kebutuhan selama dua minggu. Setelah habis, dia mempersilakan kurir untuk mengambil kembali botol ASI dengan jumlah sama.

Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, persentase pemberian ASI di Indonesia dalam 24 jam setelah bayi lahir dan tanpa pemberian makanan hingga umur enam bulan adalah 30,2 persen.

Inisiasi menyusu dini kurang dari satu jam setelah bayi lahir sebesar 34,5 persen. Jumlah ini terbilang rendah dibandingkan dengan target pemerintah, sebesar 80 persen, atau angka 50 persen yang dicanangkan Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef).

Dukungan

Keputusan Indar mendonorkan ASI tak lepas dari dorongan sang suami. Hal ini karena dalam satu minggu dia bisa membuang puluhan botol ASI yang rusak. Daripada mubazir dan dia tahu banyak bayi yang lebih membutuhkan, dia memutuskan untuk menerima permintaan donor ASI.

Sebelum melaksanakan niatnya, untuk menghindari pro dan kontra dari keluarga dan lingkungan sekitar, Indar berkonsultasi dengan beberapa ahli agama mengenai hukum memberikan ASI. Setelah mendapatkan ”lampu hijau” serta dukungan dari keluarga, dia mulai memberikan ASI kepada bayi- bayi lain.

”Dukungan keluarga penting sebab belum ada dalam keluarga saya yang melakukan ini (donor ASI),” ucap dia.

Dukungan juga hadir dari lingkungan kerjanya, dengan ketersediaan tiga ruang pompa ASI berukuran 2 meter x 1,5 meter. Bagi Indar, ruang tersebut memberi dia kenyamanan.

Ketika tengah bertugas ke luar kota atau luar negeri, aktivitas itu juga tetap dia lakukan, baik di hotel maupun di dalam pesawat terbang. Tak heran jika setiap pulang dinas, dia selalu membawa ”oleh-oleh” botol ASI yang terkadang harus dijadikan sebagai paket terpisah karena muatannya melebihi jumlah maksimal bagasi pesawat yang berkisar 15-20 kilogram.

”Meskipun repot karena harus membawa botol-botol itu, saya tak pernah terpikir untuk membuang ASI,” kata Indar.

Setelah nyaris setahun menjadi donor ASI, sekitar 100 bayi telah menerima dan mengonsumsi ASI Indar. Penerimanya pun tak hanya di Jakarta dan sekitarnya, tetapi ada pula yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, dan Balikpapan, Kalimantan Timur.

Jumlah itu masih terus bertambah, tetapi mulai kini dia memperketat pemberian ASI hanya bagi bayi yang mengidap penyakit dan prematur. Ini disebabkan kebutuhan ASI kedua anaknya semakin banyak.

”Selain itu, limpahan ASI saya perlahan juga akan berkurang,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara itu.

Penghargaan

Kegigihan Indar untuk mengumpulkan ASI dan menjadi donor menghadirkan apresiasi berupa penghargaan Kartini Award oleh organisasi Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT).

Indar menerima penghargaan karena berhasil memberikan ASI bagi 100 bayi. Kartini Award yang diterimanya pada akhir April lalu adalah penghargaan tahunan untuk mengapresiasi jasa perempuan di bidang kesehatan dan kemanusiaan.

Penilaian penghargaan yang berlangsung sejak tahun 2007 itu dilakukan Menteri Kesehatan serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. WITT mengajukan ratusan calon, dan kedua menteri itu memilih 7-10 nama penerima penghargaan.

Indar berharap agar penghargaan itu bisa menjadi awal baginya untuk memotivasi perempuan lain, terutama perempuan pekerja, untuk memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. Dia tengah mencari medium tepat guna mewujudkan gerakan tersebut.

”Saya ingin menunjukkan bahwa bekerja bukan alasan untuk menghindari kewajiban memberi ASI bagi bayi,” kata Indar. (A07)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.