Kompas.com - 20/08/2014, 17:52 WIB
|
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com -
Jumlah orang yang mengalami kegemukan terus meningkat. Junk food kerap menjadi kambing hitam dari peningkatan prevalensi obesitas. Namun mungkin penyebab tersebut lebih tepat terjadi di negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat.

Sementara itu, di Indonesia, budaya ngemil atau sering makan sebenarnya berkontribusi lebih tinggi pada peningkatan obesitas.

Menurut dokter pakar fisiologi dan pemerhati gaya hidup Grace Judio-Kahl, kebiasaan makan junk food dalam jumlah banyak dan frekuensi tinggi sangat jarang terjadi di masyarakat Indonesia. Namun kita memiliki kebiasaan memakan camilan bertepung tinggi dan kalori kosong.

"Orang Indonesia makannya relatif sedikit-sedikit, tapi sering ngemil makanan  kecil tinggi kalori seperti cireng, peyek, atau batagor," ungkap Grace dalam konferensi pers dalam rangka ulang tahun lightHOUSE ke-10, pada Rabu (20/8/2014) di Jakarta.

Kebiasaan makan camilan itu dibangun dari kebudayaan harus selalu ada makanan setiap kali beraktivitas, misalnya saat rapat. "Sekretaris biasanya akan kerepotan menyediakan camilan untuk panganan rapat. Berbeda sekali dengan di luar negeri yang disajikan kopi saja sudah bagus," ujarnya.

Selain itu, kebudayaan selalu menyuguhkan makanan sebagai bentuk rasa hormat atau sayang juga sangat kental di Indonesia. Sebagai contoh, ketika bertamu ke rumah orang, seringkali yang ditanyakan terlebih dulu oleh tuan rumah adalah "sudah makan atau belum" atau ajakan "ayo makan dulu".

Di sisi lain, orang yang ditanya atau ditawari biasanya tidak menolak karena takut dianggap tidak sopan. Belum lagi jika sajian makanan yang ditawarkan memang menggugah selera.

Terpaksa, banyak orang yang akhirnya makan lagi meskipun sebenarnya sudah makan. "Mindset seperti inilah yang perlu diubah," tandas Grace.

Karena itu, saat sedang menurunkan berat badan, dibutuhkan bantuan psikolog untuk membantu mereka memperbaiki kemampuan pengendalian diri ketika menghadapi makanan.

Obesitas diketahui merupakan pintu masuk dari penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, diabetes, atau kanker. Karena itulah, obesitas juga meningkatkan risiko kematian sekaligus beban kesehatan negara.

Prevalensi obesitas menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 meningkat jika dibandingkan dengan Riskesdas 2010. Angka obesitas pria pada 2010 sekitar 15 persen dan sekarang menjadi 20 persen. Pada wanita persentasenya dari 26 persen menjadi 35 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.