Kompas.com - 22/08/2014, 14:35 WIB
EditorLusia Kus Anna

Hambatan lain pengembangan vaksin dengue adalah tak ada hewan uji yang bisa dipakai untuk mengevaluasi kandidat vaksin dalam organisme hidup. Akibatnya, pemantauan perkembangan dan evaluasi kandidat vaksin berjalan lambat.

Vaksin CYD-TDV itu masuk uji klinik tahap ketiga. Studi yang dilakukan di Indonesia (Jakarta, Bandung, dan Denpasar), Malaysia, Filipina, Thailand, serta Vietnam itu dipublikasikan di The Lancet, 11 Juli 2014. Hasilnya, tingkat efikasi vaksin 56,5 persen. Vaksin juga menurunkan 88,5 persen kasus DBD dan 67 persen risiko rawat inap.

”Tak ada efek samping selama proses uji, bahkan pada ibu hamil dan janin,” kata pimpinan studi Maria Rosario Capeding dari Lembaga Penelitian Kedokteran Tropis Filipina kepada Kompas di Angeles City, Filipina, Juni lalu. Sejumlah uji klinik akan dilakukan untuk meningkatkan efikasi vaksin, khususnya di daerah endemik dengue.

Vaksin itu ditargetkan bisa dipasarkan pada 2016. Hal itu mendukung target WHO pada 2020 untuk menekan angka kematian akibat dengue 50 persen dan menurunkan 25 persen angka kesakitan akibat dengue.


Buatan Indonesia

Tak mau tertinggal dengan peneliti dari negara lain, ilmuwan Indonesia yang tergabung dalam Konsorsium Vaksin Dengue, kini, mengerjakan pembuatan vaksin dengue secara mandiri. Para ahli itu berasal dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dari perguruan tinggi, yang tergabung adalah Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor. Biofarma, satu-satunya perusahaan vaksin nasional, yang ikut dalam konsorsium itu.

Peneliti utama sekaligus Manajer Integrasi Proyek Divisi Riset Biofarma Neni Nurainy mengatakan, kini konsorsium dalam tahap riset dasar untuk mencari bahan baku vaksin. Artinya, butuh 15-20 tahun lagi agar vaksin buatan dalam negeri itu bisa dipasarkan.

Meski tertinggal jauh dengan vaksin dengue buatan Sanofi Pasteur, Neni dan peneliti lain yakin vaksin buatan mereka bisa bersaing karena memakai pendekatan dan teknologi berbeda. Vaksin dibuat berbasis kondisi virus dan sosial budaya Indonesia. ”Vaksin akan lebih aman karena dibuat bebas dari bahan bersumber binatang lain dan dijamin kehalalannya,” ujarnya.

Karena bebas dari hewan lain sebagai bahan bakunya, vaksin bisa dibuat dari rekombinan protein virus atau berbahan baku DNA virus. Meski belum dipastikan bahannya, para peneliti menargetkan tingkat efikasi vaksin lebih dari 80 persen.

Afiono menambahkan, tak ada vaksin yang punya efikasi hingga 100 persen. Jadi, tak ada vaksin yang bisa melindungi seseorang dari penyakit 100 persen. Vaksinasi hanya akan mengurangi risiko seseorang terinfeksi penyakit atau mengurangi tingkat keparahan penyakit.

Keberhasilan vaksin juga ditentukan kondisi bibit penyakit. Semakin banyak bibit penyakit mutasi saat diuji, tingkat efikasi vaksin akan turun. Setiap individu punya kondisi genetik berbeda yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh. (M.Zaid Wahyudi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Sumber KOMPAS

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.