Kompas.com - 01/10/2014, 14:12 WIB
EditorLusia Kus Anna

BANDUNG, KOMPAS.com - Indonesia saat ini tengah krisis ahli epidemiologi. Padahal epidemiologi sangat penting untuk mendeteksi dan menyelesaikan berbagai masalah kesehatan, seperti masalah peningkatan kejadian gizi buruk, keracunan makanan, kecelakaan, dan berbagai penyakit menular.

"Untuk ukuran Indonesia yang memiliki jumlah penduduk 245 juta, idealnya negara kita butuh 568 ahli epidemiologi dan 9.510 asisten ahli epidemiologi," ujar Plt Dirjen Pengendalian Penyakt dan Penyehatan Lingkungan, Prof Agus Purwadianto di Bandung, Rabu [1/10/2014].

Namun angka yang dimiliki sekarang jauh dari angka ideal. Dari kebutuhan 9.510 ahli, Indonesia hanya memiliki 357 ahli epidemiolog. Jumlah tersebut mencakup 1 ahli epidemiolog di setiap kabupaten/kota, dan 1 asisten ahli epidemilogi di setiap puskesmas.

Agus menerangkan pentingnya epidemilog. Dalam dua dasawarsa ini, Indonesia mengalami dua pandemi yaitu SARS di tahun 2002 dan influenza A atau H1N1 tahun 2009. Selain merugikan secara ekonomi, kejadian ini merugikan nyawa manusia.

"Terkendalinya kedua pandemi ini berkat penerapan pendekatanepidemiologi di tingkat global, regional, nasional, dan lokal, utamanya dalam pencegahan penularan atau pemutusan rantai penularan," tutur Agus.

Karena itu, kemampuan deteksi dini penyakit menular harus dimiliki setiap negara. Hal ini dilakukan agar penyebaran penyakit menular yang berakibat pandemi bisa dicegah.

"Kami pun mendorong perguruan tinggi di Indonesia agar mempelajari epidemiologi. Sebab saat ini baru dua universitas yang mempelajarinya. Yaitu Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada (UGM)," imbuhnya.

Di Jabar sendiri, pemenuhan kebutuhan ahli epidemiologi baru 30 persen. Artinya dari 27 kota/kabupaten, baru 9 kota/kabupaten yang memiliki ahli epidemiologi.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.