Kompas.com - 07/10/2014, 10:37 WIB
Calon jemaah haji yang sakit saat akan berangkat haji kloter 1. Tribunnews.com/Hendra GunawanCalon jemaah haji yang sakit saat akan berangkat haji kloter 1.
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke, menjadi penyebab terbanyak pada jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia di Tanah Suci. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 54 anggota jemaah haji tahun ini atau 50 persen meninggal di Arab Saudi dan 4 orang meninggal saat masih di embarkasi karena penyakit kardiovaskular.

"Penyebab kematian, 50 persen karena penyakit kardiovaskular. Lainnya, penyakit terkait pernapasan, ada 20 orang," ujar Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (6/10/2014).

Angka kematian jemaah haji tahun ini pun meningkat seiring banyaknya anggota jemaah yang menderita penyakit kronis. Data terbaru menunjukkan, sebanyak 109 orang meninggal di Arab Saudi dan 8 orang saat masih di embarkasi ataupun pesawat.

Tahun 2013 lalu, jumlah anggota jemaah haji yang meninggal dunia yaitu 86 orang. Ghufron mengatakan, seperti disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi Abdullah Al Asiri, salah satu faktor meningkatnya jumlah anggota jemaah sakit yang pergi haji karena sudah berniat meninggal dunia di Tanah Suci. Sejumlah anggota jemaah berkeyakinan bisa masuk surga jika meninggal di Tanah Suci.

Pihak Kementerian Kesehatan Arab Saudi menegaskan, kemampuan fisik harus menjadi syarat utama pergi haji untuk menekan angka kematian di Tanah Suci. Menurut Ghufron, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak bisa melarang jemaah untuk tetap pergi ibadah haji meski kurang sehat.

Kemenkes hanya menyiapkan tenaga kesehatan untuk mendampingi anggota jemaah haji yang sakit, khususnya bagi orang berusia lanjut (lansia). Sejauh ini, rekomendasi tidak boleh berangkat berlaku untuk ibu dengan usia kehamilan tertentu. Mereka yang belum suntik meningitis juga tidak diperbolehkan berangkat.

Kendala lainnya, kebanyakan dari para anggota jemaah tidak mau jika keberangkatannya ditunda hanya karena kurang sehat. "Antreannya kan panjang, bisa nabung lama untuk naik haji. Pas dapat giliran, sudah lansia," kata Ghufron.

Menurut dia, Kementerian Kesehatan dan kementerian terkait harus kembali duduk bersama mencari solusi menekan angka kematian di Tanah Suci. Mereka akan kembali merumuskan jenis-jenis penyakit atau kemampuan fisik yang tidak memenuhi syarat pergi haji.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X