Kompas.com - 11/10/2014, 14:20 WIB
EditorLusia Kus Anna

Macedonia juga dalam siaga penuh setelah seorang warga Inggris meninggal dengan dugaan menderita ebola. Seorang warga Inggris lain dirawat karena menunjukkan gejala serupa. Keduanya tinggal di salah satu hotel di Skopje, ibu kota Macedonia. Pegawai hotel dan kru ambulans yang terlibat kontak langsung dengan mereka telah diisolasi.

Di Praha, Ceko, seorang pria Ceko dirawat di ruang isolasi RS Bulovka karena gejala terjangkit virus ebola. Menurut juru bicara RS, pria itu baru-baru ini pergi ke Liberia. Otoritas Australia, Jumat, memeriksa perawat Palang Merah berusia 57 tahun di Cairns, yang menderita demam setelah pulang dari Sierra Leone.

Masyarakat internasional, Kamis, dalam sebuah pertemuan menyepakati tindakan cepat untuk memerangi ebola. Pertemuan itu dihadiri petinggi organisasi global, lembaga kesehatan, organisasi non-pemerintah serta kepala negara Guinea, Liberia, dan Sierra Leone, untuk menghimpun reaksi global atas wabah ebola.

Beberapa negara di Asia juga membantu penanganan krisis di Afrika Barat. Menteri Kesehatan Filipina Enrique Ona mengatakan, Filipina akan mengirimkan pekerja kesehatan. Bantuan staf dan peralatan medis juga diberikan Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Jepang.
Siap

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, di Jakarta, mengatakan, Indonesia sudah mengantisipasi wabah ebola. Kesiapan mencakup tenaga kesehatan, laboratorium, hingga rumah sakit. Tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan rujukan ataupun pintu masuk negara juga disiagakan.

”Kami siap. Fasilitas kesehatan, laboratorium, tenaga kesehatan, dan tata laksana penanganan pasien sudah mampu menangani,” kata Nafsiah.

Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), yang sudah terakreditasi dengan tingkat keamanan biologi 3 (BSL-3), pernah memeriksa tiga sampel terduga ebola yang semua negatif. Laboratorium BSL-3 lain di Indonesia adalah Institute of Human Virology and Cancer Biology (IHVCB) Universitas Indonesia, Institut Penyakit Tropis Universitas Airlangga, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Kepala Balitbangkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan agar kembali menginformasikan tenaga kesehatan untuk selalu menaati prosedur keamanan saat menangani pasien penyakit menular.

Tata laksana penanganan pasien penyakit ebola tidak jauh beda dengan penanganan pasien penyakit menular lain, seperti sindrom pernapasan akut parah (SARS), flu burung, dan MERS-CoV. Semuanya mengharuskan pasien diisolasi ketat. Cara penularannya saja yang beda.

Penularan virus ebola ke manusia terjadi melalui kontak langsung cairan tubuh, seperti darah, sekresi tubuh, dan organ lain dari pasien. Di Afrika, pasien semula terinfeksi virus dari simpanse, gorila, monyet, dan satwa yang ditemukan sakit atau mati di hutan hujan. Virus lalu menyebar ke komunitas sehingga terjadi penularan antarmanusia, seperti yang terjadi di Spanyol.
(ADH/AFP/AP/REUTERS/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.