Kompas.com - 19/11/2014, 14:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com -
Diet rendah kalori mungkin bisa memperlambat proses penuaan. Peneliti  mengatakan pengurangan kalori mempengaruhi perilaku ratusan gen yang terkait dengan penuaan dan pembentukan memori di otak.

Sebuah studi eksperimental menemukan untuk pertama kalinya bahwa pembatasan kalori, khususnya karbohidrat, memanipulasi fungsi sekelompok gen yang sebelumnya dicurigai mempengaruhi proses penuaan. Pembatasan kalori sudah diketahui selama berpuluh tahun memperpanjang hidup binatang.

Dr. Stephen Ginsberg, seorang neuroscientist dari New York University Langone Medical Centre yang memimpin penelitian ini mengatakan, "Penelitian kami membuktikan pembatasan kalori menghentikan ekspresi gen yang terlibat dalam penuaan phenotype, bagaimana beberapa gen mempengaruhi perilaku tikus, manusia dan mamalia ketika mereka bertambah tua."

Namun ia mengingatkan membatasi kalori bukan berarti kita sudah menemukan "air mancur awet muda" kendati pembatasan kalori itu menambah bukti peran pengaturan gizi dalam menunda dampak penuaan dan penyakit terkait penuaan.

Dr. Ginsberg mengatakan manfaat pengaturan gizi itu disebut-sebut mengurangi risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke. Tetapi dampak genetik terhadap daerah memori dan pembelajaran di otak menua belum terbukti.

Studi sebelumnya hanya mengukur dampak pengaturan gizi terhadap satu atau dua gen dalam sekali waktu. Penelitian Dr. Ginsberg dan kawan-kawan melibatkan lebih dari 10 ribu gen. Ia mengatakan riset yang dilakukannya memperluas pintu menuju studi lebih lanjut terhadap pembatasan kalori dan genetika antipenuaan.

Untuk keperluan penelitian ini, tikus betina yang seperti manusia rentan terkena kepikunan diberi makanan pelet 30 persen lebih rendah kalori dibandingkan yang diberikan ke tikus lain. Analisa jaringan terhadap daerah hippocampal, daerah di otak yang terkena dampak penyakit Alzheimer's dini diperiksa terhadap tikus saat dewasa muda dan dewasa lanjut untuk mencari perbedaan ekspresi gen.

Hasil penelitian tersebut dipresentasikan di hadapan pertemuan tahunan ahli Neuroscience di Washington DC. "Studi ini menemukan bahwa diet pembatasan kalori bisa mempengaruhi sekelompok besar gen pada otak tikus betina yang terkait dengan penuaan. namun belum jelas apakah perubahan ini bisa menerjemahkan manfaatnya pada pembelajaran dan memori pada tikus-tikus ini," ujar Direktur penelitian Alzheimer's di Inggris Dr. Eric Karran.

"Diperlukan studi intervensional terhadap manusia untuk menentukan dampak pembatasan kalori terhadap kesehatan jangka panjang dan kerusakan memori terkait penuaan. Seperti kita ketahui bagi banyak orang akan sulit mengikuti diet pembatasan kalori kendati terbukti bermanfaat untuk kesehatan otak," katanya.

Ia mengingatkan yang penting bagi kita adalah menjalani diet sehat dan seimbang, khususnya ketika bertambah usia. Ketika kita memilih untuk mengikuti diet pembatasan kalori, sebaiknya kita berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu.

"Bukti-bukti penelitian saat ini mengatakan cara terbaik menjaga kesehatan otak usia lanjut adalah dengan tidak merokok, menjaga berat badan sehat, menjaga pola makan sehat, dan menjaga kenormalan tekanan darah tinggi serta kolesterol," imbuhnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.