Kompas.com - 21/11/2014, 07:20 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Ahli gizi di Inggris melontarkan ide pelarangan penderita obesitas  untuk makan junk food sebagai terapi kejut untuk mulai penurunan berat badan. Tujuannya bukan untuk mempermalukan, tapi menyelamatkan nyawa.

Ahli gizi dari Inggris Steve Miller mengatakan karyawan restoran cepat saji sebaiknya dilatih untuk menolak melayani pembeli obesitas dengan cara halus dan sopan santun.

"Tak ada keraguan bahwa sebagian pelanggan setia restoran cepat saji menderita obesitas. Akal sehat mengatakan penderita obesitas yang menyantap makanan seperti itu membuat kesehatannya jadi berisiko. Itu sebabnya saya sedang melobi restoran cepat saji untuk memberdayakan karyawan menolak melayani mereka," katanya.

Ia juga ingin melihat restoran seperti itu juga memberi pilihan makanan yang lebih sehat. "Ini bukan soal bersikap kejam tetapi menyelamatkan nyawa orang banyak. Saya tahu ini radikal tetapi saya sudah muak dengan pendidikan kesehatan pemerintah. Ada banyak akal sehat tetapi tak seorang pun tampaknya memilikinya," imbuh Miller.

"Kita perlu memulai memiliki tubuh sendiri. Satu-satunya cara mengurangi obesitas adalah menggunakan taktik kejutan," katanya. Inti dari terapi ini memang radikal tetapi ia mengaku idenya tidak termasuk mempermalukan mereka yang kelebihan berat badan.

Ia menawarkan keahliannya secara gratis pada restoran cepat saji yang tertarik memperbaiki kesehatan pelanggannya. Ia bersedia membuat program pelatihan untuk staf restoran cepat saji untuk memberi rasa percaya diri dan empati untuk membantu pelanggan obesitas.

Sebagai seorang hipnoterapis, ia mau membantu mengajarkan bahasa hipnotis untuk membantu pelanggan memilih makanan lebih sehat. Ia sudah menulis surat ke petinggi restoran cepat saji menawarkan jasanya dan berharap restoran itu menjadi yang pertama di Inggris menerapkan pelarangan lemak.

Proposalnya ini bisa mengejutkan masyarakat untuk mulai menurunkan berat badan agar tidak ditolak makan di restoran cepat saji.

"Makan berlebihan itu termasuk ketagihan. Saya orang pertama yang menyebut makanan seperti narkoba. Sebagian besar klien kecanduan makanan. Mereka yang kecanduan butuh bantuan untuk menurunkan berat badan. Anda tak bisa memberi pecandu narkoba jadi kita juga tak bisa membiarkan orang gemuk makan junk food," katanya.

Miller mengatakan idenya ini bakal terus berkembang sampai ke situasi di mana jaringan restoran cepat saji bakal didenda bila menolak membantu konsumennya menurunkan berat badan.

"Di bar seseorang yang mabuk tidak akan diberi minuman alkohol oleh bartender karena berbahaya. Tidak beda dengan orang gemuk. Makan berlebihan junk food tidak aman untuk mereka yang terlanjur gemuk. Ada banyak risiko penyakit atau kematian dini dari kegemukan," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.