Sejumlah Dokter Dengarkan Musik Saat Operasi Pasien

Kompas.com - 14/12/2014, 09:45 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorDian Maharani


KOMPAS.com – Musik dengan melodi yang lembut selama ini dipercaya dapat menenangkan hati maupun pikiran seseorang yang mendengarkannya. Tak heran jika musik sering digunakan sebagai terapi untuk kesehatan. Musik pun ternyata kerap digunakan sejumlah dokter saat melakukan operasi bedah.

Seperti dikutip dari situs huffingtonpost.com, laporan terbaru yang diterbitkan British Medical Journal menyatakan bahwa sejumlah dokter ahli bedah umumnya menyetel musik sekitar 62-72 persen dari waktu selama operasi. Genre yang paling sering dipilih adalah musik klasik.

Sekitar 80 persen staf di ruang operasi mengatakan, musik dapat membuat kerjasama antar anggota tim menjadi lebih baik. Musik juga mengurangi rasa cemas dan meningkatkan efisiensi saat operasi. Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa musik dapat membuat dokter ahli bedah lebih fokus saat operasi.

Namun, beberapa ahli medis tidak sependapat. Mereka menilai musik justru dapat mengganggu dan menghambat komunikasi di ruang operasi. Pernyataan itu pun ditentang oleh dokter bedah di Wales. Menurut mereka, dampak positif menyalakan musik lebih besar dibanding dampak negatifnya jika bisa mengendalikan musik menjadi tidak bising.

"Ahli bedah pasti akan terus menggunakan musik untuk menenangkan. Musik akrab dengan praktek sehari-hari mereka," tulis David Bosanquet, James Glasbey, dan Raphael Chavez dalam sebuah koran.

Menurut penelitian, alunan musik yang pelan atau santai di ruang operasi juga dapat dirasakan manfaatnya oleh pasien yang akan menjalani operasi. Sebuah studi tahun 2009 terhadap 372 pasien menunjukkan bahwa permainan musik dengan melodi yang santai lebih efektif mengurangi kecemasan atau rasa tegang  pasien sebelum operasi berlangsung.

Bahkan Pain Research Center di Universitas Utah dalam sebuah studi tahun 2012 menyatakan, musik dapat mengurangi rasa nyeri. Berdasarkan studi ini, jika pasien fokus mendengarkan musik, rasa sakit berkurang sebanyak 17 persen ketika pasien diberi alat kejut listrik.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Singapura juga menemukan bahwa terapi musik dapat mengurangi rasa sakit pasien yang menjalani perawatan paliatif.

"Musik dapat membuat pasien merasa terhubung kembali dengan bagian yang sehat dari diri mereka sendiri, bahkan saat menghadapi kondisi yang lemah atau merasa menderita karena penyakitnya," ujar seorang terapis musik Melanie Kwan dari Asosiasi Terapi Musik, Singapura kepada American Psychological Association.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X