Kompas.com - 31/12/2014, 19:26 WIB
|
EditorDian Maharani


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Sejumlah media massa terus memberitakan peristiwa hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 yang kini telah ditemukan di Selat Karimata. Publik, termasuk keluarga korban, pun terus menanti kabar terbaru melalui media massa. Para keluarga korban, misalnya, mereka yang dikumpulkan di Posko Crisis Centre Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, dapat menyaksikan kabar terbaru melalui layar televisi (TV).

Untuk itu, media massa pun perlu berhati-hati dalam menayangkan gambar. Dokter spesialis kedokteran jiwa, Andri, menilai media massa turut memengaruhi kondisi psikis para keluarga korban. Sebab, para keluarga korban kini menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa itu.

"Misalnya, waktu itu ada gambar mayat terapung. Keluarga korban yang melihat pasti shock kan. Harusnya seperti itu tidak dilakukan atau tidak usah ditayangkan secara nyata. Cukup beritanya saja. Berita saja bikin orang shock, apalagi gambar diulang-ulang," kata Andri saat dihubungi Kompas.com, Rabu (31/12/2013).

Andri pun tak menampik jika tayangan demikian bisa menambah rasa cemas hingga stres pada keluarga korban. Tak heran jika setelah tayangan penemuan jenazah itu beberapa keluarga korban menjadi histeris dan ada yang jatuh pingsan. Bahkan, tak sedikit publik yang tak kuat melihat tayangan seperti itu.

"Melihat tayangan itu bisa sekali menambah rasa cemas, stres. Itu makanya kenapa diprotes," lanjut Andri.

Menurut Andri, televisi tak perlu menayangkan bagian yang menyayat hati secara berulang-ulang. Menurut dia, awak media maupun orang sekitar juga harus memahami kondisi psikis para keluarga korban, misalnya, tak perlu menanyakan bagaimana perasaan keluarga korban yang ditinggalkan karena sudah pasti yang dirasakan adalah kesedihan.

"Berikanlah waktu untuk orang-orang ini, jangan langsung ditanya-tanya dulu. Berikan privasi. Orang yang ditanya belum tentu bisa jawab. Orang mereka masih kebingungan, cemas. Itu salah satu gejala reaksi stres akut. Kita harus berempati. Jangan sampai nanya sembarangan," imbuh Andri.

Andri menjelaskan, para keluarga korban saat ini sedang mengalami reaksi berkabung. Mereka menjadi lebih cemas dan tidak mampu mengendalikan emosi. Hal ini bisa membuat seseorang menjadi depresi. Untuk itu, dukungan moral dari sejumlah pihak sangat penting.

Untuk diketahui, puing pesawat yang hilang kontak sejak Minggu (28/12/2014) itu telah ditemukan di Selat Karimata pada Selasa (30/12/2014). Tim SAR gabungan juga menemukan tujuh jenazah di perairan tersebut.

Selama proses evakuasi tersebut, sejumlah keluarga penumpang pesawat AirAsia QZ8501 berada di Posko Crisis Centre Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur. Puluhan psikiater juga telah melakukan pendampingan kepada mereka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.