Kompas.com - 26/01/2015, 10:20 WIB
EditorLusia Kus Anna

SURABAYA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan 11 kabupaten dan kota berstatus kejadian luar biasa atau KLB demam berdarah. Jumlah penderita demam berdarah di 11 kabupaten/kota itu meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. Faktor utama adalah lingkungan, curah hujan tinggi yang berlangsung berkala.

Daerah yang berstatus KLB demam berdarah adalah Kabupaten Jombang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Kediri, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Madiun, dan Kota Madiun. Masih ada kemungkinan wabah meluas ke kabupaten/kota lain.

Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Minggu (25/1), di Surabaya, Jawa Timur, mengatakan, penetapan status KLB itu antisipasi karena jumlah pasien demam berdarah di beberapa rumah sakit di 11 kabupaten/kota itu meningkat. ”Jangan anggap remeh jika ada anggota keluarga yang terserang gejala penyakit ini. Segera bawa ke rumah sakit untuk mencegah kemungkinan terburuk karena sudah ada korban jiwa,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Harsono mengatakan, sejak awal 2015 hingga Minggu kemarin terdapat 1.251 penderita demam berdarah. Dari jumlah itu, 25 penderita meninggal. Pada periode yang sama Januari 2014 hanya ada 975 kasus demam berdarah.

”Sebenarnya, tren demam berdarah menurun dari tahun 2013 ke tahun 2014. Tahun ini, pada Januari, sudah menunjukkan peningkatan dua kali lipat sehingga ditetapkan KLB,” kata Harsono. Pada 2013, jumlah penderita demam berdarah di Jatim sebanyak 14.936 orang. Jumlah ini menurun pada 2014 menjadi 8.906 orang.

Harsono mengatakan, meningkatnya kasus demam berdarah dipicu curah hujan tinggi yang menyebabkan banyak genangan tempat berkembang biak nyamuk penyebar demam berdarah, Aedes aegypti. Namun, curah hujan tinggi itu terjadi secara periodik atau ada jeda selama beberapa hari sehingga genangan yang terbentuk dapat bertahan lama dan kondusif bagi jentik nyamuk untuk berkembang.

Selalu Januari

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jatim, kondisi serupa selalu terjadi pada musim hujan, terutama pada Januari. Pada 2014, misalnya, dari total 14.936 kasus yang terjadi selama setahun, 3.264 kasus terjadi pada Januari. Kasus terbesar terjadi pada Januari 2010, yaitu 5.599 kasus dari total 26.059 kasus sepanjang tahun itu.

Jumlah kematian penderita demam berdarah pun meningkat pada musim hujan sekitar Januari hingga Mei. Pada 2014, jumlah penderita yang meninggal pada periode Januari-Mei rata-rata 11 orang.

Harsono menambahkan, potensi meluasnya wabah demam berdarah masih sangat besar mengingat musim hujan masih panjang. ”Maka, kami terus membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mengubur sampah, menguras bak, dan menutup wadah yang dapat terisi air,” katanya.

Upaya pengasapan untuk membunuh jentik nyamuk juga mulai dilakukan di beberapa daerah. Selain upaya preventif itu, Pemerintah Provinsi Jatim juga menyiapkan pelayanan kesehatan di rumah sakit supaya pasien demam berdarah dapat tertangani dengan baik. Begitu pula dengan persiapan obat-obatan yang dibutuhkan untuk mencegah kasus menjadi fatal. (DEN/ETA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.