Kompas.com - 10/02/2015, 14:00 WIB
Murid sekolah dasar di Desa Long Berini, Kecamatan bahau Hulu, Malinau, 9 Desember 2014. Long Berini adalah salah satu desa yang berada di perbatasan Indonesia - Malaysia. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOMurid sekolah dasar di Desa Long Berini, Kecamatan bahau Hulu, Malinau, 9 Desember 2014. Long Berini adalah salah satu desa yang berada di perbatasan Indonesia - Malaysia.
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Meski ekonomi tumbuh baik, Indonesia tak akan menjadi negara dengan ekonomi kuat jika banyak warganya kurang gizi. Menurut Laporan Nutrisi Global 2014, Indonesia adalah satu dari 17 negara dengan masalah serius terkait jumlah anak pendek, kurus akibat gizi buruk, sekaligus kelebihan berat badan pada anak balita.

Hal itu dikatakan Prof Lawrence Haddad, co-Chair dari Global Nutrition Report Independent Expert Group dan peneliti senior pada International Food Policy Research Institute, Senin (9/2). Ia berbicara dalam diseminasi Laporan Nutrisi Global (GNR) 2014, di Jakarta. Acara itu sekaligus puncak peringatan Hari Gizi Nasional Ke-55 tahun 2015.

Para pembicara lain di antaranya perwakilan Unicef Gunilla Olsson, tokoh masyarakat Salahuddin Wahid, pejabat terkait di Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, dan Bappenas.

Deputi Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Nina Sardjunani menjelaskan, GNR 2014 merupakan seri pertama laporan tahunan yang menjelaskan kemajuan perbaikan gizi di seluruh dunia. Laporan itu memaparkan data dan informasi terkait gizi secara global, berisi pengalaman, praktik terbaik, dilengkapi profil 193 negara anggota PBB.

Menurut Haddad, gizi yang baik adalah landasan pembangunan berkelanjutan. Namun kurang dari setengah jumlah anak balita Indonesia yang tumbuh sehat.

Hal senada diungkapkan Prof Endang L Achadi, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan salah satu tim ahli GNR. Posisi Indonesia menunjukkan, prevalensi anak pendek tinggi, tetapi kecepatan penurunan per tahun rendah. Selain memiliki masalah pada jumlah anak pendek, kurus, dan berlebih berat badan, Indonesia punya masalah anemia pada perempuan usia subur.

Kondisi itu memperburuk masalah gizi, karena pertumbuhan anak dihitung mulai 1.000 hari pertama sejak dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Cakupan tiga intervensi (intervensi menyusui dini, ASI eksklusif, tablet tambah darah bagi ibu hamil) dari lima intervensi pun rendah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sinergi dan koordinasi

”Masalah gizi harus ditangani segera dengan kesatuan visi dan platform. Perlu koordinasi dan sinergi berbagai pemangku kepentingan untuk intervensi spesifik gizi,” kata Endang.

Ia mencontohkan, Maharashtra, negara bagian di India berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa berhasil menurunkan jumlah anak pendek dari 36.5 persen (2005-2006) menjadi 24 persen (2012). Itu tak lepas dari perbaikan faktor dasar (antara lain akses air bersih, sanitasi, pendidikan, ketersediaan makanan) dan komitmen berkesinambungan selama lebih dari 10 tahun.

Para pembicara diskusi itu sepakat, masalah Indonesia adalah sinergi. Upaya perbaikan gizi diurus 12 kementerian dan lembaga, tetapi selama bertahun-tahun tak ada perbaikan.

Mardewi dari Gerakan Nasional Kesehatan Ibu dan Anak yang juga Manajer Program Gizi dari Helen Keller Indonesia menyatakan, di tingkat akar rumput, perbaikan gizi berjalan baik. Kerja sama dengan pemerintah daerah juga baik. Tantangan yang dihadapi di antaranya transparansi anggaran, pergantian kepemimpinan dalam struktur pemerintahan, dan keterbatasan program LSM terkait waktu dan dana, sehingga memengaruhi keberlanjutan kerja sama. (ATK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Trypophobia
Trypophobia
PENYAKIT
Iskemia
Iskemia
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Trypophobia

Trypophobia

Penyakit
4 Pantangan Makanan untuk Penderita Penyakit Prostat

4 Pantangan Makanan untuk Penderita Penyakit Prostat

Health
Iskemia

Iskemia

Penyakit
3 Cara Mengobati Penyakit Kantung Empedu

3 Cara Mengobati Penyakit Kantung Empedu

Health
Pendarahan Pasca Melahirkan

Pendarahan Pasca Melahirkan

Penyakit
Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mata Terkena Cairan Hand Sanitizer

Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Mata Terkena Cairan Hand Sanitizer

Health
Penyakit Addison

Penyakit Addison

Penyakit
11 Cara Menjaga Kesehatan Mata yang Baik Diperhatikan

11 Cara Menjaga Kesehatan Mata yang Baik Diperhatikan

Health
8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

8 Penyebab Selangkangan Hitam, Bisa Terkait Penyakit

Health
3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

3 Gejala Ejakulasi Dini yang Perlu Diperhatikan

Health
Penis Gatal

Penis Gatal

Penyakit
9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

9 Bahaya Obesitas yang Perlu Diwaspadai

Health
Premenstrual Syndrome (PMS)

Premenstrual Syndrome (PMS)

Penyakit
Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Vitiligo pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Health
Gangguan Pendengaran

Gangguan Pendengaran

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.