Kompas.com - 16/03/2015, 12:04 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Banyak pria yang kini senang menumbuhkan janggut di wajahnya. Janggut memang bisa membuat seorang pria tampak lebih berkharisma. Bahkan aktor Ben Affleck mengatakan janggut miliknya menjadi semacam "jimat keberuntungan" di ajang Oscar.

Meski demikian, beberapa ahli mengatakan bahwa janggut tidak lebih dari sebuah 'spons bakteri', karena penuh dengan ribuan bakteri dan tempat berkembangnya kuman.

Carol Walker, ahli dermatologi yang banyak meneliti rambut dan kulit kepala, mengatakan memiliki rambut di wajah bisa menyebabkan infeksi kulit lebih sering dan beresiko untuk mentransfer kuman ke orang lain.

"Jenggot, terutama jika rambutnya ikal, akan memudahkan kuman untuk berkembang biak dengan cepat, karena rambut pada wajah akan menjebak kotoran dan kuman dengan lebih mudah," katanya.

Kutikula pada rambut berbentuk seperti lapisan ubin pada atap, sehingga mampu menerangkap kuman dan minyak dengan lebih mudah. Selain itu rambut di sekitar lubang hidung dan mulut merupakan salah satu yang disukai bakteri.

Kebiasaan yang salah, misalnya memegang-memegang janggut dengan tangan kotor, juga akan menyebarkan bakteri ke mulut. Belum lagi jika ada sisa makanan terjebak dalam janggut. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah, saat sedang flu dan ebrsin, sebagian kuman juga akan tinggal di dalam janggut.

Infeksi kulit juga bisa disebabkan karena eksim dari bakteri yang terdapat dalam janggut Anda.  

Jenggot bekerja sebagai isolator. Jika terdapat lipatan di bawah dagu, kulit bisa mengalami kemerahan akibat keringat yang mengandung kotoran dan bakteri terjebak di dalam jenggot.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa jenggot dapat menyebarkan infeksi, kata Dr Ron Cutler, dari Queen Mary, University of London.

"Itulah mengapa sangat penting bagi para pria untuk rajin membersihkan wajah secara teratur, khusunya bagi yang memiliki," katanya.

Manuel Barbeito, seorang ahli mikrobiologi di Angkatan Darat AS pada tahun 1960, menemukan kuman dapat tetap menyebar meskipun para pekerja di laboratorium telah menggunakan mantel dan sepatu. Ia menduga penularan ini berasal dari jenggot.

Secara teori jenggot merupakan tempat berkembang biak yang ideal bagi kuman, sehingga ia penasaran untuk mengetahui apakah akan ada lebih banyak lagi bakteri dan virus yang dapat disebarkan oleh para pekerja laboratorium yang memiliki jenggot.

Dia meminta karyawannya untuk  menebalkan jenggot mereka dan kemudian disemprot dengan bakteri non-infeksi. Ia menemukan bahwa bakteri itu sebenarnya melekat pada jenggot, dan dengan mencuci jenggot tidak membuatnya bebas dari bakteri.

"Meskipun pembersihan akan mengurangi jumlah kuman pada jenggot, namun binantang kecil yang tinggal di dalam jenggot akan tetap ada dan jika dibiarkan secara terus-menerus hal ini akan menghasilkan suatu penyakit", katanya. (Monica Erisanti)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Dailymail

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.