Kompas.com - 10/04/2015, 19:18 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Bersyukurlah bagi yang tempat tinggalnya tak jauh dari kantor. Tetapi banyak dari kita yang jarak antara rumah dan kantor agak jauh sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Mereka yang tinggalnya tidak terlalu jauh pun ada kalanya harus menempuh perjalanan rumah-kantor cukup lama karena harus berhadapan dengan kemacetan yang semakin menggila, seperti di Jakarta. Sayangnya waktu tempuh yang lama ini tidak baik bagi kesehatan. 

Bagi mereka yang bekerja di kota besar seperti Jakarta, waktu tempuh dari rumah ke kantor bisa beragam. Ada yang mengatakan 45 menit, bahkan 2 jam untuk yang tempat tinggalnya di luar Jakarta. Entah berapa jam waktu yang sudah dihabiskan menghadapi kemacetan di ibukota ini. Sementara bagi mereka yang di daerah, waktu tempuhnya bisa jadi tak sampai 30 menit. 

Perjalanan ke kantor kerapkali menjadi waktu yang membuat tidak nyaman. Selain tidak nyaman, menghabiskan waktu di jalan terlalu lama saat berangkat atau pulang kerja, memiliki pengaruh terhadap fisik maupun mental seseorang.

Contoh mudahnya, di pagi hari (apalagi hari Senin), sebelum berangkat ke kantor, para pekerja tak sedikit yang sudah stres membayangkan perjalanannya tersebut. Safeworkers menyebutkan para komuter, terutama bila mereka menyetir sendiri, dengan waktu tempuh yang relatif lama, beresiko tinggi hipertensi, gangguan muskuloskeletal, amarah dan kebencian yang meningkat di tempat kerja, dibandingkan mereka yang tinggal lebih dekat di tempat kerja. 

Shutterstock Ilustrasi

Tekanan darah naik

Laporan dari UK's Office National Statistics tahun 2014 menjumpai, komuter yang ke kantor dengan kendaraan pribadi (tanpa mempedulikan lamanya perjalanan) atau mereka yang perjalanannya lebih dari 30 menit dengan kereta, bis, atau jalan kaki, memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang melakukan perjalanan dengan lebih pendek. 

Penelitian yang dilakukan Christine Hoehner, Ph.D, juga menjumpai bahwa semakin lama seseorang berkendara, tekanan darahnya cenderung naik. Selain itu, suasana hati juga bisa terpengaruh dengan lamanya waktu tempuh ini. 

Studi yang dilakukan oleh University of East Anglia tahun 2014 menunjukkan bahwa mereka yang menyetir atau menggunakan transportasi publik ke tempat kerja jarang bisa menikmati aktivitas hariannya dan mengalami kesulitan lebih besar untuk berkonsentrasi dibandingkan dengan pejalan kaki ataupun pesepeda.

Yang menarik, para periset menjumpai bahwa skor kesejahteraan menurun untuk komuter pengguna mobil karena waktu yang dihabiskan di belakang kemudi meningkat. 

 
Tetapi bagi pejalan kaki, mereka yang berjalan lebih jauh ke tempat kerja memiliki skor kesehatan mental lebih baik. Kalaupun menggunakan transportasi umum, seperti bis ataupun kereta, ada baiknya mulai mengobrol dengan sesama penumpang lain karena efeknya lebih positif ketimbang berdiam diri saja. 

Kondisi kesehatan lainnya yang juga bisa terjadi dengan para komuter adalah nyeri leher serta punggung. Menurut poling Gallup di tahun 2010, sepertiga komuter dengan waktu perjalanan lebih dari 90 menit mengatakan mereka berhadapan dengan nyeri leher dan punggung yang terus menerus.

"Waktu ekstra yang dihabiskan dengan duduk merosot ke depan di bangku kemudi atau kereta berkontribusi terhadap masalah ini,” terang Andrew Wolf, fisiolog olah raga di Miraval Resort and Spa, Tucson, Arizona. Namun berupaya untuk duduk tegap dengan penyangga punggung di belakang punggung bawah dan kepala sejajar bahu akan membantu mengembalikan kebiasaan buruk. 

Gemuk

Masalah lain yang dapat muncul dari waktu tempuh yang cukup lama dari rumah ke kantor adalah bertambahnya angka timbangan.  Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventative Medicine tahun 2012 menjumpai semakin jauh penduduk Texas melakukan perjalanan setiap hari, mereka cenderung kelebihan berat badan.

Satu masalah lainnya yang penting untuk diperhatikan adalah kemungkinan terpapar polusi dengan lebih banyak. Studi tahun 2007 terhadap warga Los Angeles menunjukkan, hampir setengah dari paparan terhadap polusi udara berbahaya terjadi saat mereka bepergian dengan kendaraan.

 
Sementara bersepeda ke tempat kerja, menurut riset yang dilakukan di Belanda tahun 2010 menunjukkan peningkatan paparan terhadap polutan. Tetapi penelitian serupa juga menjumpai bahwa manfaat kesehatan yang membuat denyut jantung meningkat dengan bersepeda jauh lebih besar daripada risikonya setidaknya hingga 9 kalinya. 

“Tidaklah mudah untuk pindah atau berganti pekerjaan. Sehingga bila Anda mengalami perjalanan yang lama, penting untuk membuat upaya lebih besar menjadi lebih aktif sepanjang hari,” ujar Hoehner. Saran yang diberikan Hoehner adalah dengan jalan kaki saat istirahat, sering beranjak dari meja kerja, naik tangga, dan membuat prioritas untuk berolah raga saat memiliki waktu. 
 
Berangkat ke kantor bersama teman kantor atau teman satu komplek perumahan, bisa dicoba. Anda bisa bergantian menyetir dengan mereka. Kalau pun malas menyetir, cobalah naik transportasi umum seperti bis atau kereta. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.