Kompas.com - 29/05/2015, 14:25 WIB
Ilustrasi berlatih yoga ShutterstockIlustrasi berlatih yoga
|
EditorBestari Kumala Dewi
KOMPAS.com - Mereka yang menggemari yoga, kebanyakan tahu dengan yoga Bikram atau yoga panas. Tidak seperti yang biasa, yoga Bikram dilakukan di dalam ruang panas dengan tingkat kelembapan tertentu. Sejumlah penggiat yoga, bisa jadi gemar melakukannya. Namun, yoga di ruang panas ini harus dilakukan hati-hati, karena berpotensi menaikkan suhu inti dalam tubuh Anda. 

Yoga Bikram memang tidak seperti yoga yang biasa dilakukan. Yoga Bikram dilakukan dalam ruangan dengan suhu 40 derajat Celcius dan kelembapan 40 persen. Dengan 26 pose standar yang berlangsung selama 90 menit. Panas yang timbul ini, salah satunya dirancang untuk menaikkan denyut jantung. 

Karena intensitas dan potensi untuk menimbulkan masalah terkait panas, yoga ini, seperti disebutkan Mayo Clinic, bukan untuk setiap orang. Potensi masalah juga dijumpai dari studi terbaru yang disponsori oleh American Council on Exercise.

Studi tersebut menunjukkan, bahwa melakukan yoga di lingkungan seperti itu berpotensi menaikkan suhu inti dalam tubuh sekitar 39,4 derajat Celcius, bahkan bisa lebih tinggi lagi. Hasil diperoleh setelah periset di University of Wisconsin melakukan studi terhadap 20 praktisi Bikram reguler melalui sensor suhu inti dalam tubuh.

Satu pria, seperti disebutkan peneliti dalam Yoga Journal, memiliki suhu tubuh 40 derajat Celcius di akhir kelas. Sementara tujuh partisipan, suhunya lebih dari 39,4 derajat Celcius. 

Kondisi ini merisaukan peneliti. "Karena 40 derajat Celcius adalah suhu ketika sejumlah orang mulai menunjukkan beberapa tanda awal dari intoleransi panas," ujar Dr. Cedric Bryant, Chief Science Officer dari American Council on Exercise. Meski ada kenaikan suhu inti tubuh, dikatakan Dr. Bryant, tidak ada responden dalam studi yang menunjukkan tanda intoleransi panas. 

"Bila Anda mengikuti panduan, individu yang sehat bisa melakukan praktik yoga Bikram dengan sangat aman," imbuhnya. Manfaat juga bisa diperoleh dari yoga ini, salah satunya adalah perbaikan fleksibilitas. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para instruktur Bikram bersertifikasi, ditambahkan Dr. Bryant, sangat baik dalam memperhatikan tanda intoleransi panas. Namun, bagi partisipan, terutama yang baru dengan yoga ini, Dr. Bryant mewanti-wanti untuk mengetahui dan mewaspadai tanda maupun gejala seperti mual ringan, pusing, sakit kepala, dan kram ringan. 

"Intoleransi panas menjadi tanda, bahwa Anda tidak bertoleransi dengan panas dan perlu beristirahat serta mencari lokasi yang sejuk," anjurnya. Rekomendasi lainnya, mereka yang mengikuti yoga Bikram mesti memastikan dirinya terhidrasi dengan baik. Minum sebelum dan selama kelas berlangsung, serta merehidrasi setelah selesai.

Minuman olah raga dengan elektrolit bisa menjadi pilihan lebih baik bagi banyak partisipan, mengingat aktvitas ini berlangsung selama 90 menit. Selain itu, pastikan studio yoga yang dipilih memiliki sistem sirkulasi pembersih udara yang baik. 

Perempuan hamil, mereka dengan penyakit kardiovaskuler, dan diabetes, disarankan oleh Dr. Bryant untuk mempertimbangkan melakukan latihan yoga di lingkungan dengan suhu netral. 

Sementara itu, Jennifer Lobo, pemilik yoga Bikram di New York sangat terkejut dengan temuan studi ini. Mengingat ia tidak pernah mengalami masalah serius terkait panas ini, sejak membuka studi tahun 1999. 

Menurut Lobo, panas menjadi alat untuk menghangatkan tubuh guna menghindari cedera dan meningkatkan fleksibilitas. Kemudian 26 postur yoga Hatha dan dua teknik pernapasan pranayama didesain untuk bekerja di setiap otot, tendon, ligamen, sendi, dan organ dalam tubuh. 

Instruktur, dikatakan Lobo, juga akan memperhatikan pesertanya bila ada masalah yang mungkin timbul. Sama seperti yang disarankan Dr. Bryant, Lobo pun mendorong peserta untuk minum air dan mengonsumsi elektrolit sebelum serta selama di kelas.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nyeri Punggung

Nyeri Punggung

Penyakit
13 Gejala Pembengkakan Hati yang Perlu Diwaspadai

13 Gejala Pembengkakan Hati yang Perlu Diwaspadai

Health
Osteomalasia

Osteomalasia

Penyakit
4 Cara Menghilangkan Lemak Perut Saran Ahli

4 Cara Menghilangkan Lemak Perut Saran Ahli

Health
Sakit Gigi

Sakit Gigi

Penyakit
Pendarahan Otak Bisa Menyebabkan Kematian, Cegah dengan Cara Berikut

Pendarahan Otak Bisa Menyebabkan Kematian, Cegah dengan Cara Berikut

Health
Anodontia

Anodontia

Penyakit
Mengapa Demam Bisa Membahayakan Pasien Kanker?

Mengapa Demam Bisa Membahayakan Pasien Kanker?

Health
Sakit Kepala Tegang

Sakit Kepala Tegang

Penyakit
Memahami Penyebab dan Gejala Infeksi Usus Buntu

Memahami Penyebab dan Gejala Infeksi Usus Buntu

Health
Inkompatibilitas ABO

Inkompatibilitas ABO

Penyakit
3 Aktivitas yang Membawa Risiko Tinggi Covid-19

3 Aktivitas yang Membawa Risiko Tinggi Covid-19

Health
3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

Health
Pandangan Kabur

Pandangan Kabur

Penyakit
Mata Berair

Mata Berair

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.