Kompas.com - 03/06/2015, 10:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Dalam kehidupan sehari-hari, manusia bisa mengalami stres. Selama bisa dikelola dan ditangani dengan baik, stres bisa mereda. Tetapi bila tidak, apalagi ketika berada dalam hubungan pernikahan, stres yang dialami oleh isteri dapat mempengaruhi kesehatan suaminya. 

Penelitian sebelumnya telah menghubungkan stres dan hubungan yang buruk dengan naiknya tekanan darah. Sedikit diketahui masalah tersebut dapat mempengaruhi pasangan. 

Karenanya, dalam studi terbaru para periset melihat tekanan darah para pasangan bisa berubah berdasarkan pergeseran dalam kepuasan hubungan maupun tingkat stres. Evaluasi dilakukan terhadap 1.350 pasangan di tahun 2006 dan 2010. 

Menurut Kira Birditt, ilmuwan dari Institute for Social Research, University of Michigan, Ann Arbor, "Kami menjumpai bahwa suami memiliki tekanan darah lebih tinggi ketika isteri dilaporkan memiliki stres lebih besar. Kaitan ini lebih besar lagi ketika suami lebih negatif terhadap hubungannya."

Kualitas pernikahan negatif yang dialami oleh hanya satu pasangan tidak dikaitkan dengan tekanan darah. Tetapi saat kedua pasangan menyebutkan kualitas pernikahan negatif yang lebih besar, keduanya memiliki tekanan darah lebih tinggi. 

Birditt dan koleganya mengulas data sampel nasional dari 22 ribu orang yang lahir tahun 1953 atau sebelumnya. Mereka memfokuskan pada bagian atas pasangan berbeda jenis kelamin dan keduanya berpartisipasi dalam wawancara tatap muka tentang hubungan mereka. Kebanyakan pasangan menikah namun 3 persen tinggal bersama. 

Di tahun 2006, sekitar sepertiga suami memiliki tekanan darah tinggi dan 26 persen isteri mengalaminya. Di tahun 2010, 37 persen dan 30 persen perempuan mengalami tekanan darah tinggi. 

Suami yang stres, memiliki tekanan darah lebih rendah ketika isteri mereka hanya mengalami sedikit stres saja. Meski demikian, perempuan yang stres memiliki tekanan darah lebih rendah saat suaminya banyak mengalami tekanan. 

Para periset yang menuliskan dalam Journals of Gerontology Series B menyebutkan studi hanya menggunakan empat pertanyaan untuk menilai kualitas hubungan yang mungkin saja melewatkan sejumlah perbedaan kecil yang bisa mempengaruhi hasilnya. 

Ditambahkan Kristen Peek, profesor kedokteran pencegahan dan kesehatan komunitas dari University of Texas Medical Branch, Galveston, ada banyak bukti bahwa paparan terhadap stres, termasuk hubungan atau pernikahan yang negatif, berkaitan dengan hasil fisiologis yang buruk. 

"Suami yang lebih tua cenderung untuk bergantung pada isterinya untuk perawatan yang didefinisikan secara luas sebagai menyiapkan makan, tanggung jawab terhadap rumah tangga, dan pengasuhan," lanjut Peek.

Cukup masuk akal untuk pasangan lebih tua yang pernikahannya lebih banyak mengikuti peran gender tradisional sehingga suami tersebut akan mengalami penurunan kesehatan mental dan fisik sebagai respon terhadap penurunan kondisi isterinya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.