Kompas.com - 12/06/2015, 19:45 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com – Banyak penelitian telah mengungkapkan, bahwa rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional. Sayangnya, belum semua orang, termasuk ibu hamil mengetahui informasi tersebut. Sebab, mulanya rokok elektrik diklaim sebagai alat bantu untuk berhenti merokok dan tidak berbahaya.

Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan di Amerika Serikat, hampir setengah dari 316 ibu hamil tidak tahu bahwa rokok elektrik mengandung nikotin atau mengandung zat adiktif. Mereka juga menduga, rokok elektrik tidak terlalu berbahaya bagi janin dalam kandungan dibanding rokok biasa.

Salah satu penulis studi Victoria Coleman-Cowger mengungkapkan, pemakaian rokok elektrik pun meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ilmuwan dari Baltimore itu berharap semua orang dapat pemahaman yang benar mengenai bahaya rokok elektrik.

Survei dilakukan pada ibu hamil yang dirawat di klinik rawat jalan University of Maryland. Ibu hamil diminta menjawab riwayat merokoknya,  pengetahuan tentang bahaya rokok biasa dan rokok elektrik, serta sikap mereka terhadap rokok elektrik.


Para peneliti menemukan, bahwa 42 wanita atau 13 persen ibu hamil mengaku pernah mencoba rokok elektrik dan dua diantaranya merokok elektrik setiap hari. Sebanyak tiga dari empat wanita mengaku, merokok elektrik karena mengira tidak lebih berbahaya dari rokok biasa. Mereka pun mengaku menggunakannya untuk bisa berhenti merokok.

Kemudian, berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di Journal of Addiction Medicine, 57 persen percaya bahwa rokok elektrik mengandung nikotin, 61 persen berpikir rokok elektrik bisa  membuat ketagihan, tetapi 43 persen percaya bahwa rokok elektrik tidak terlalu lebih berbahaya daripada rokok biasa.


Peneliti menegaskan, bahwa nikotin pada rokok elektrik juga berbahaya bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Penelitian sebelumnya mengungkapkan, ibu hamil yang merokok elektrik berisiko melahirkan bayi prematur atau berat badan lahir rendah, hingga kematian pada bayi.

Direktur Medis di Center for Neurobehavioral Research on Addiction University of Texas di Houston, Michael Weaver menambahkan, nikotin bahkan bisa menyebabkan masalah pada jantung.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber foxnews
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.